Skripsi
dan Budaya Literasi
Kemarin, saya
dikejutkan dengan kabar bahwa teman saya hampir saja gagal saat ujian
skripsinya. Hal ini tentu membuat saya keheranan. Karena saya tahu kemampuan
beliau dalam literasi atau penguasaan materi skripsinya. Sebagai contoh, hampir
semua dosen yang mengajarnya memuji makalah dan kemampuannya dalam memahami
perkuliahan. Dosen tersebut tidak hanya memuji makalah buatanya di depan
kelasnya, akan tetapi dosen tersebut memuji makalah di kelas lain yang
seangkatan dengannya.
Tak sampai disitu,
beliau pernah beberapa kali Indeks Prestasinya (IP) 4.00. Disamping itu, beliau
juga harus rela-rela untuk membeli buku terkait penelitiannya. Dengan demikian,
Saya sangat yakin kemampuannya diatas rata-rata dengan teman seangkatanya. Dia
sangat menguasai konsentrasi jurusan yang dipilih dan di luar jurusan
konsentrasinya beliau juga mumpuni. Bahkan di waktu yang sama dia kuliah di
kampus lain.
Namun demikian,
ternyata saat ujian skripsi beliau harus dikagetkan dengan hasil yang tidak
memuaskan. Tetapi, lulus. Nilainya tidak memuaskan bukan karena dia copas atau
minta buatkan dengan orang lain.
Terkait dengan judul
diatas, dulu saya meyakini bahwa skripsi memang dapat membantu meningkatkan
budaya literasi karena didalam proses bimbingan kita diajarkan untuk menulis
dan membaca dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu sepertinya proses
pembuatan skripsi tidak dapat diandalkan dalam meningkatkan budaya literasi.
Kenapa demikian? Karena
saya juga sering menemukan mereka yang lulus sidang dengan nilai sangat
memuaskan, saat disuruh untuk menulis buku mereka kelabakan lalu galau.
Bukankah skripsi pernah mereka lewati? Bukankah membuat skripsi lebih sulit di
banding membuat tulisan atau buku? Ini dapat menandakan proses skripsi belum
memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap budaya literasi kita.
Skripsi itu berat,
kalian tidak akan mampu, jika kalian tidak terbiasa dengan menulis atau berliterasi.
Bukti skripsi lebih sulit dibanding membuat tulisan atau buku, yakni masih
banyak kita temukan mereka yang semestinya kuliah maksimal 5 tahun, ternyata harus
sampai berpuluh-puluh tahun karena belum mampu menyelesaikan skripsinya. Namun
demikian, tidak berarti mereka yang gagal membuat skripsi atau penelitian
menunjukan budaya literasinya rendah.
Beberapa tahun lalu
saya pernah membuat tulisan tentang ‘akankah skripsi terbaik dapat penghargaan?
Tulisan ini tentu dilatarbelakangi bahwa betapa sulitnya kami menyelesaikan
skripsi kala itu. Sehingga saya berpikiran, jika skripsi ini sulit kenapa
jarang kita menemukan skripsi terbaik dapat penghargaan. Bahkan skripsi hanya
jadi pajangan di perpustakaan, tanpa ada reward
berarti dari kampus.
Jika kita mengatakan
skripsi itu mudah, toh masih banyak juga mahasiswa yang hampir di Drop Out (DO) gara-gara tidak mampu
menyelesaikan skripsinya. Karena Skripsi merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar sarjana. Nah, apa yang kita harapkan dari mahasiswa dalam
menyelesaikan skripsinya? Mahir menulis? Jago pidato? Atau menjadi ilmuwan
hebat? Atau kesemuanya?
Jika kita masih
mempertahankan skripsi untuk membuat mahasiswa meningkatkan budaya literasi
atau sebagai standar kelayakan untuk disebut sarjana atau lebih dalam lagi
yakni seorang ilmuwan. Maka, menurut saya, kita harus memikirkan kembali
cara-cara terbaik pra penyusunan skripsi dan penyusunan skripsi. Misalnya,
setiap pertemuan mahasiswa diwajibkan membuat tulisan dan membaca buku.
Sekalipun masih banyak dosen yang jarang menulis buku, tidak apa-apa yang
penting motivasinya. Maka, saya yakin skripsi dan budaya literasi akan menjadi
sesuatu yang mudah dan membahagiakannya.
Seseorang pernah
berkata kepada saya. Kamu jangan takut membuat skripsi, karena skripsi itu
hasil ‘kolektif’ antara kamu dan dosen pembimbingmu. Ternyata, kenyataanya
memang begitu. Untuk menyelesaikan skripsi kita harus mengikuti arahan atau
bimbingan dosen pembimbing, meski berbeda dengan kemauan kita.
Ternyata, kita sering
juga menemukan saat mahasiswa sidang skripsi, pembimbingnya hanya diam tanpa
ada pembelaan apapun saat penguji mempertanyakaan dan mempersoalkan penelitian
mahasiswanya. Lantasnya dimana peran pembimbingnya? Apakah saat proses
bimbingan atau saat sidang skripsi? Jika peran pembimbing saat proses
bimbingan, maka kami memohon dengan hormat, bimbinglah mahasiswa anda ke
penelitian yang jelas dan dapat dipertanggunjawabkan. Jika perannya saat sidang
skripsi, maka bantu mereka untuk mempertahankan argumentasinya jika memang
benar. Jika perannya dikeduanya, itu lebih baik.
Seperti saya sampaikan
diatas, bahwa memang skripsi erat kaitannya dengan literasi. Oleh karena itu,
sejatinya dan tidak kalah pentingnya mahasiswa juga harus mampu membiasakan
berliterasi dan mampu memahami ke arah mana penelitiannya dan apa substansi
penelitian itu. Sehingga tidak hanya menyelesaikan tugas akhirnya saja,
melainkan ia tahu apa tujuan dari penelitiannya itu.
Penutup, Mahasiswa dan
dosen pembimbing juga harus mempunyai keinginan yang kuat dalam hal membangun atau
menyuarakan manfaat menulis skripsi atau penelitian. Karena tidak jarang kita
temukan skripsi menjadi sebuah buku yang best
seller atau hanya pajangan usang. Dalam
hal ini, Pihak kampus juga ikut terlibat dalam mencanangkan program yang mengaitkan
antara skripsi dan budaya literasi. Dengan demikian, akan tersistem secara
otomatis yakni skripsi hebat, literasi kuat.
