Jumat, 08 Februari 2019

Skripsi dan Budaya Literasi

Skripsi dan Budaya Literasi

Kemarin, saya dikejutkan dengan kabar bahwa teman saya hampir saja gagal saat ujian skripsinya. Hal ini tentu membuat saya keheranan. Karena saya tahu kemampuan beliau dalam literasi atau penguasaan materi skripsinya. Sebagai contoh, hampir semua dosen yang mengajarnya memuji makalah dan kemampuannya dalam memahami perkuliahan. Dosen tersebut tidak hanya memuji makalah buatanya di depan kelasnya, akan tetapi dosen tersebut memuji makalah di kelas lain yang seangkatan dengannya.

Tak sampai disitu, beliau pernah beberapa kali Indeks Prestasinya (IP) 4.00. Disamping itu, beliau juga harus rela-rela untuk membeli buku terkait penelitiannya. Dengan demikian, Saya sangat yakin kemampuannya diatas rata-rata dengan teman seangkatanya. Dia sangat menguasai konsentrasi jurusan yang dipilih dan di luar jurusan konsentrasinya beliau juga mumpuni. Bahkan di waktu yang sama dia kuliah di kampus lain.

Namun demikian, ternyata saat ujian skripsi beliau harus dikagetkan dengan hasil yang tidak memuaskan. Tetapi, lulus. Nilainya tidak memuaskan bukan karena dia copas atau minta buatkan dengan orang lain.

Terkait dengan judul diatas, dulu saya meyakini bahwa skripsi memang dapat membantu meningkatkan budaya literasi karena didalam proses bimbingan kita diajarkan untuk menulis dan membaca dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu sepertinya proses pembuatan skripsi tidak dapat diandalkan dalam meningkatkan budaya literasi.

Kenapa demikian? Karena saya juga sering menemukan mereka yang lulus sidang dengan nilai sangat memuaskan, saat disuruh untuk menulis buku mereka kelabakan lalu galau. Bukankah skripsi pernah mereka lewati? Bukankah membuat skripsi lebih sulit di banding membuat tulisan atau buku? Ini dapat menandakan proses skripsi belum memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap budaya literasi kita.

Skripsi itu berat, kalian tidak akan mampu, jika kalian tidak terbiasa dengan menulis atau berliterasi. Bukti skripsi lebih sulit dibanding membuat tulisan atau buku, yakni masih banyak kita temukan mereka yang semestinya kuliah maksimal 5 tahun, ternyata harus sampai berpuluh-puluh tahun karena belum mampu menyelesaikan skripsinya. Namun demikian, tidak berarti mereka yang gagal membuat skripsi atau penelitian menunjukan budaya literasinya rendah.

Beberapa tahun lalu saya pernah membuat tulisan tentang ‘akankah skripsi terbaik dapat penghargaan? Tulisan ini tentu dilatarbelakangi bahwa betapa sulitnya kami menyelesaikan skripsi kala itu. Sehingga saya berpikiran, jika skripsi ini sulit kenapa jarang kita menemukan skripsi terbaik dapat penghargaan. Bahkan skripsi hanya jadi pajangan di perpustakaan, tanpa ada reward berarti dari kampus.

Jika kita mengatakan skripsi itu mudah, toh masih banyak juga mahasiswa yang hampir di Drop Out (DO) gara-gara tidak mampu menyelesaikan skripsinya. Karena Skripsi merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Nah, apa yang kita harapkan dari mahasiswa dalam menyelesaikan skripsinya? Mahir menulis? Jago pidato? Atau menjadi ilmuwan hebat? Atau kesemuanya?

Jika kita masih mempertahankan skripsi untuk membuat mahasiswa meningkatkan budaya literasi atau sebagai standar kelayakan untuk disebut sarjana atau lebih dalam lagi yakni seorang ilmuwan. Maka, menurut saya, kita harus memikirkan kembali cara-cara terbaik pra penyusunan skripsi dan penyusunan skripsi. Misalnya, setiap pertemuan mahasiswa diwajibkan membuat tulisan dan membaca buku. Sekalipun masih banyak dosen yang jarang menulis buku, tidak apa-apa yang penting motivasinya. Maka, saya yakin skripsi dan budaya literasi akan menjadi sesuatu yang mudah dan membahagiakannya.
Seseorang pernah berkata kepada saya. Kamu jangan takut membuat skripsi, karena skripsi itu hasil ‘kolektif’ antara kamu dan dosen pembimbingmu. Ternyata, kenyataanya memang begitu. Untuk menyelesaikan skripsi kita harus mengikuti arahan atau bimbingan dosen pembimbing, meski berbeda dengan kemauan kita.

Ternyata, kita sering juga menemukan saat mahasiswa sidang skripsi, pembimbingnya hanya diam tanpa ada pembelaan apapun saat penguji mempertanyakaan dan mempersoalkan penelitian mahasiswanya. Lantasnya dimana peran pembimbingnya? Apakah saat proses bimbingan atau saat sidang skripsi? Jika peran pembimbing saat proses bimbingan, maka kami memohon dengan hormat, bimbinglah mahasiswa anda ke penelitian yang jelas dan dapat dipertanggunjawabkan. Jika perannya saat sidang skripsi, maka bantu mereka untuk mempertahankan argumentasinya jika memang benar. Jika perannya dikeduanya, itu lebih baik.

Seperti saya sampaikan diatas, bahwa memang skripsi erat kaitannya dengan literasi. Oleh karena itu, sejatinya dan tidak kalah pentingnya mahasiswa juga harus mampu membiasakan berliterasi dan mampu memahami ke arah mana penelitiannya dan apa substansi penelitian itu. Sehingga tidak hanya menyelesaikan tugas akhirnya saja, melainkan ia tahu apa tujuan dari penelitiannya itu.

Penutup, Mahasiswa dan dosen pembimbing juga harus mempunyai keinginan yang kuat dalam hal membangun atau menyuarakan manfaat menulis skripsi atau penelitian. Karena tidak jarang kita temukan skripsi menjadi sebuah buku yang best seller atau hanya pajangan usang. Dalam hal ini, Pihak kampus juga ikut terlibat dalam mencanangkan program yang mengaitkan antara skripsi dan budaya literasi. Dengan demikian, akan tersistem secara otomatis yakni skripsi hebat, literasi kuat.