Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Indonesia,
khususnya tengah memasuki Tahun
Ajaran Baru
atau Tahun Akademik
Ganjil. Baik yang naik kelas dan naik
tingkat maupun yang sedang beralih status dari siswa menjadi mahasiswa. Secara
tidak langsung, tentu ada nuansa baru yang dirasakan
oleh peserta didik atau pendidik. Karena memang pasca diberlakukannya New Normal ini, membuat semua orang
berupaya mencari jalan terbaik agar bagaimana proses pendidikan bisa mencapai
tujuannya.
Apalagi dengan diterapkannya pembelajaran online kala itu, tentu membuat seluruh
orangtua sangat memfokuskan diri pada pemilihan sekolah atau perguruan tinggi
untuk anaknya. Hal ini tergambar pada persiapan atau antusias orang
tua untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi atau
persiapan untuk menerima pelajaran baru. Baik itu ketika mendaftarkan anak diberbagai sekolah atau perguruan tingggi, atau membelikan
pakaian, alat tulis baru maupun fasilitas yang mendukung pembelajaran secara online (daring) handphone,
wifi dan sebagainya.
Tentu
kita akan sepakat bahwa latar belakang para orangtua selektif
dalam memilih pendidikan, karena mereka yakin dengan
pendidikan, kita akan memperoleh yang namanya kebahagiaan. Hal ini
sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Henderson yang
dikutip oleh Redja Mudyhardjo dalam bukunya Pengantar Pendidikan yaitu “..pendidikan sebagai suatu proses pertumbuhan
dan perkembangan berarti. Sebagai suatu hasil interaksi seseorang
individu dengan lingkungannya baik fisik maupun sosial, mulai dari lahir sampai
akhir hayatnya sebagai suatu proses dimana pewarisan sosial merupakan sebagian dari lingkungan sosial menjadi suatu
alat yang dipergunakan untuk perkembangan dari pribadi-pribadi sebaik dan
sebanyak mungkin, laki-laki dan wanita yang hendak meningkatkan kesejahteraan
manusia...”.
Kondisi yang belum sepenuhnya aman dari Covid-19
ini, menuntut pendidik maupun peserta didik harus lebih bersungguh-sungguh
dalam mempersiapkan proses pembelajarannya. Oleh karena itu,
yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana persiapan pengajar itu sendiri. Namun demikian, kondisi seperti ini (misalnya: pelaksana pembelajaran
daring) kita tidak bisa berharap lebih dari teacher
oriented. Akan tetapi, lebih kepada student
oriented. Sekalipun orangtua juga diharapkan menjadi teacher oriented. Namun demikian, tidak semua orangtua mampu
menjadi pendamping dalam pembelajaran anak.
Siswa
atau mahasiswa sangat berharap pada kemampuan dan keikhlasan seorang
pendidiknya dalam membimbing dan menuntunnya untuk meraih tujuan awal dari ia
mengenyam pendidikan. Jika sang ‘pemimbing dan penuntun’ sudah tidak mempunyai
kemampuan dan keikhlasan, tentu harapan akan terwujudnya
pendidikan yang menghantarkan pada kebahagiaan akan pupus. Dewasa
ini, dengan majunya zaman dan teknologi, orang-orang juga terkadang berpendapat
bahwa guru atau dosen hanya sebatas fasilitator, sementara siswa atau
mahasiswanya yang harus lebih aktif dan kreatif untuk menumbuhkan. Tentu pendapat
ini bisa salah dan bisa benar. Karena memang, masih banyak
pola pendidikan di Indonesia ini menerapkan sistem harus tatap muka atau
offline (luar jaringan).
Jika
pendapat itu masih bersifat kemungkinan, maka sebaiknya kita mengambil jalan
tengah yakni guru atau dosen harus sudah mempersiapkan dirinya bagaimana
mengajar yang baik dan dapat membawa perubahan lebih. Sedangkan
Siswa dan mahasiswa juga harus belajar yang lebih giat, agar menopang
cita-citanya bisa tercapai. Keduanya ini tentu harus berjalan sinergi atau
dalam bahasa Bung Karno yang dikutip oleh Syamsul Kurniawan yaitu ‘Mutualisme’,
hubungan timbal balik. Karena memang peserta didik dan pendidik adalah hal yang
saling membutuhkan.
Ikhtiar Mencapainya
Kondisi yang sulit
seperti ini, jangan sampai mematahkan semangat anak untuk menuntut ilmu. Karena
memang, mereka seperti diberikan pilihan, mau belajarnya secara online atau offline? Tentu,
tergantung dari keinginan anak dan orangtua. Jika anak dan orangtua memilih
yang offline atau luar jaringan (luring). Maka, mereka harus menyiapkan dan
patuh akan protokol kesehatan. Mulai menjaga kebersihan, mengkonsumsi penjaga
kesehatan dan tentunya menggunakan masker saat proses pembelajaran di kelas.
Tidak kalah pentingnya adalah sampaikan ke mereka bahwa tidak semua hal bisa
ditransfer melalui online, seperti akhlak atau keteladanan.
Mereka yang memilih
pembelajaran online atau dalam jaringan (daring), paling tidak menyiapkan quota
internet, wifi atau handphone. Namun demikian, yang tidak kalah pentingnya
adalah pendampingan orangtua selama proses pembelajaran itu. Namun demikian,
orangtua tidak harus standby disamping
anak, apalagi para orangtua yang bekerja diluar rumah. Akan tetapi, orangtua bisa
menanyakan ke anak hal apa yang dipelajari atau menanyakan ke guru sejauh mana
pemahaman anak terhadap proses pembelajarannya yang telah dilaluinya. Intinya,
pembelajaran daring ini, melibatkan orangtua. Baik dari segi moral atau
dukungan semangat maupun finansialnya. Minimal ada pertanyaan ke anak sejauh
mana progres pembelajarannya, paham atau tidak apa yang disampaikan oleh
pendidik.
Kesulitan dan solusinya
Secara umum,
kesulitan yang dialami oleh para orangtua yang memilih pembelajaran daring adalah finansial, terlepas dari
daerah yang masih sulit sinyal. Mereka harus menyiapkan uang khusus untuk paket
internet anak atau wifi baik yang harian mingguan maupun bulanan. Maka, jika
ada yang merasa sulit sinyal atau tidak ada biaya untuk internet. Sampaikan ke
guru atau dosen agar diberikan jalan keluar, baik itu subsidi internet maupun
bantuan lainnya.
Mereka yang memilih
tetap belajar offline atau luring, pada umumnya kesulitan yang
dirasakan juga keuangan. Karena harus ada tambahan penjamin kesehatan anak,
disamping rasa khawatir yang ada karena tidak bisa memantau secara langsung
pergaulan anak dengan temannya. Maka, solusinya sampaikan ke anak terus jaga
pola makan, jaga kesehatan dan pergaulan. Gunakan masker dan patuhi protokol
kesehatan.
Terakhir, anak
diberikan kemerdekaan belajar, tentu yang harus dipilih adalah yang terbaik.
Bukan karena memilih yang mudah, tapi tidak bermutu. Oleh karena itu,
Kecerdasan dalam menjelaskan pemilihan sekolah atau perguruan tinggi ke anak,
akan membuat mereka belajar lebih nyaman sehingga transfer nilai-nilai
pendidikan menjadi berarti baginya. Karena memang, Kondisi yang dilematis ini,
harus membuat kita memberikan pilihan yang tepat ke anak. Bukan hanya,
persoalan anak mendapatkan ilmu, tetapi jaminan keselamatan anak juga terjaga dengan baik, merupakan hal
utama.
Tetap sampaikan ke
anak untuk berfikiran positif atas kondisi ini, karena kita dilarang sok tahu apalagi
menyalahkan Tuhan. Meminjam istilah al-Quran “boleh Jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh
Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal
ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah ayat 216).
Berpikir saja yang positif, karena akan menghadirkan energi positif dalam diri
kita, seperti teori the law of attraction.
Sehingga tujuan mulia dari pendidikan bisa tercapai dengan sempurna.