Minggu, 23 Agustus 2020

Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

 

Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Indonesia, khususnya tengah memasuki  Tahun Ajaran Baru atau Tahun Akademik Ganjil. Baik yang naik kelas dan naik tingkat maupun yang sedang beralih status dari siswa menjadi mahasiswa. Secara tidak langsung, tentu ada nuansa baru yang dirasakan oleh peserta didik atau pendidik. Karena memang pasca diberlakukannya New Normal ini, membuat semua orang berupaya mencari jalan terbaik agar bagaimana proses pendidikan bisa mencapai tujuannya.

Apalagi dengan diterapkannya pembelajaran online kala itu, tentu membuat seluruh orangtua sangat memfokuskan diri pada pemilihan sekolah atau perguruan tinggi untuk anaknya. Hal ini tergambar pada persiapan atau antusias orang tua untuk melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi atau persiapan untuk menerima pelajaran baru. Baik itu ketika mendaftarkan anak diberbagai sekolah atau perguruan tingggi, atau membelikan pakaian, alat tulis baru maupun fasilitas yang mendukung pembelajaran secara online (daring) handphone, wifi dan sebagainya.

Tentu kita akan sepakat bahwa latar belakang para orangtua selektif dalam memilih pendidikan, karena mereka yakin dengan pendidikan, kita akan memperoleh yang namanya kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Henderson yang dikutip oleh Redja Mudyhardjo dalam bukunya Pengantar Pendidikan yaitu ..pendidikan sebagai suatu proses pertumbuhan dan perkembangan berarti. Sebagai suatu hasil interaksi seseorang individu dengan lingkungannya baik fisik maupun sosial, mulai dari lahir sampai akhir hayatnya sebagai suatu proses dimana pewarisan sosial merupakan  sebagian dari lingkungan sosial menjadi suatu alat yang dipergunakan untuk perkembangan dari pribadi-pribadi sebaik dan sebanyak mungkin, laki-laki dan wanita yang hendak meningkatkan kesejahteraan manusia...”.

Kondisi yang belum sepenuhnya aman dari Covid-19 ini, menuntut pendidik maupun peserta didik harus lebih bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan proses pembelajarannya. Oleh karena itu, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana persiapan pengajar itu sendiri. Namun demikian, kondisi seperti ini (misalnya: pelaksana pembelajaran daring) kita tidak bisa berharap lebih dari teacher oriented. Akan tetapi, lebih kepada student oriented. Sekalipun orangtua juga diharapkan menjadi teacher oriented. Namun demikian, tidak semua orangtua mampu menjadi pendamping dalam pembelajaran anak.

Siswa atau mahasiswa sangat berharap pada kemampuan dan keikhlasan seorang pendidiknya dalam membimbing dan menuntunnya untuk meraih tujuan awal dari ia mengenyam pendidikan. Jika sang ‘pemimbing dan penuntun’ sudah tidak mempunyai kemampuan dan keikhlasan, tentu harapan akan terwujudnya pendidikan yang menghantarkan pada kebahagiaan akan pupus. Dewasa ini, dengan majunya zaman dan teknologi, orang-orang juga terkadang berpendapat bahwa guru atau dosen hanya sebatas fasilitator, sementara siswa atau mahasiswanya yang harus lebih aktif dan kreatif untuk menumbuhkan. Tentu pendapat ini bisa salah dan bisa benar. Karena memang, masih banyak pola pendidikan di Indonesia ini menerapkan sistem harus tatap muka atau offline (luar jaringan).

Jika pendapat itu masih bersifat kemungkinan, maka sebaiknya kita mengambil jalan tengah yakni guru atau dosen harus sudah mempersiapkan dirinya bagaimana mengajar yang baik dan dapat membawa perubahan lebih. Sedangkan Siswa dan mahasiswa juga harus belajar yang lebih giat, agar menopang cita-citanya bisa tercapai. Keduanya ini tentu harus berjalan sinergi atau dalam bahasa Bung Karno yang dikutip oleh Syamsul Kurniawan yaitu ‘Mutualisme’, hubungan timbal balik. Karena memang peserta didik dan pendidik adalah hal yang saling membutuhkan.

Ikhtiar Mencapainya

Kondisi yang sulit seperti ini, jangan sampai mematahkan semangat anak untuk menuntut ilmu. Karena memang, mereka seperti diberikan pilihan, mau  belajarnya secara online atau offline? Tentu, tergantung dari keinginan anak dan orangtua. Jika anak dan orangtua memilih yang offline atau luar jaringan (luring). Maka, mereka harus menyiapkan dan patuh akan protokol kesehatan. Mulai menjaga kebersihan, mengkonsumsi penjaga kesehatan dan tentunya menggunakan masker saat proses pembelajaran di kelas. Tidak kalah pentingnya adalah sampaikan ke mereka bahwa tidak semua hal bisa ditransfer melalui online, seperti akhlak atau keteladanan.

Mereka yang memilih pembelajaran online atau dalam jaringan (daring), paling tidak menyiapkan quota internet, wifi atau handphone. Namun demikian, yang tidak kalah pentingnya adalah pendampingan orangtua selama proses pembelajaran itu. Namun demikian, orangtua tidak harus standby disamping anak, apalagi para orangtua yang bekerja diluar rumah. Akan tetapi, orangtua bisa menanyakan ke anak hal apa yang dipelajari atau menanyakan ke guru sejauh mana pemahaman anak terhadap proses pembelajarannya yang telah dilaluinya. Intinya, pembelajaran daring ini, melibatkan orangtua. Baik dari segi moral atau dukungan semangat maupun finansialnya. Minimal ada pertanyaan ke anak sejauh mana progres pembelajarannya, paham atau tidak apa yang disampaikan oleh pendidik.

Kesulitan dan solusinya

Secara umum, kesulitan yang dialami oleh para orangtua yang memilih pembelajaran daring adalah finansial, terlepas dari daerah yang masih sulit sinyal. Mereka harus menyiapkan uang khusus untuk paket internet anak atau wifi baik yang harian mingguan maupun bulanan. Maka, jika ada yang merasa sulit sinyal atau tidak ada biaya untuk internet. Sampaikan ke guru atau dosen agar diberikan jalan keluar, baik itu subsidi internet maupun bantuan lainnya.

Mereka yang memilih tetap belajar offline atau luring, pada umumnya kesulitan yang dirasakan juga keuangan. Karena harus ada tambahan penjamin kesehatan anak, disamping rasa khawatir yang ada karena tidak bisa memantau secara langsung pergaulan anak dengan temannya. Maka, solusinya sampaikan ke anak terus jaga pola makan, jaga kesehatan dan pergaulan. Gunakan masker dan patuhi protokol kesehatan.

Terakhir, anak diberikan kemerdekaan belajar, tentu yang harus dipilih adalah yang terbaik. Bukan karena memilih yang mudah, tapi tidak bermutu. Oleh karena itu, Kecerdasan dalam menjelaskan pemilihan sekolah atau perguruan tinggi ke anak, akan membuat mereka belajar lebih nyaman sehingga transfer nilai-nilai pendidikan menjadi berarti baginya. Karena memang, Kondisi yang dilematis ini, harus membuat kita memberikan pilihan yang tepat ke anak. Bukan hanya, persoalan anak mendapatkan ilmu, tetapi jaminan keselamatan  anak juga terjaga dengan baik, merupakan hal utama.

Tetap sampaikan ke anak untuk berfikiran positif atas kondisi ini, karena kita dilarang sok tahu apalagi menyalahkan Tuhan. Meminjam istilah al-Quran “boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah ayat 216). Berpikir saja yang positif, karena akan menghadirkan energi positif dalam diri kita, seperti teori the law of attraction. Sehingga tujuan mulia dari pendidikan bisa tercapai dengan sempurna.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar