Senin, 21 September 2020

Budaya Meriam Saat Ramadhan di Kubu Raya

Oleh: Heriansyah (08565456191)

A.      Pendahuluan

Kita sudah mengetahui bersama bahwa Indonesia kaya akan budaya (culture), mulai dari suku bahkan sampai agama yang kesemuanya memiliki budaya yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang harus dirawat dalam bingkai keberagaman Bhineka Tunggal Ika. Seiring berjalannya waktu tidak menutup kemungkinan budaya tersebut ditinggalkan karena dianggap sudah tidak maju lagi dan tidak sesuai dengan zaman.

Pepatah kuno mengatakan “Tempus mutantur, et nos mutamur in illid artinya waktu berubah dan kita (ikut) berubah juga didalamnya” (Sutrisno & Putranto, 2005, hal. 7). Begitu juga dengan Budaya Meriam Ramadhan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat Kabupaten Kubu Raya, tentu akan mengalami perubahan bahkan budaya ini jika tidak dipertahankan akan bisa punah. Oleh karena itu, Meriam harus tetap dipertahankan sebagai “budaya” yang seiring dengan zaman akan mengalami perubahan. Kegiatan bermain meriam karbit meru­pakan tradisi bagi masyarakat Melayu Ponti­anak, demikian ujaran (Utama, 2013).

Namun, seiring berjalannya waktu masyarakat sekitar Pontianak juga mulai menyukai dan menjadikan meriam sebagai kebudayaan termasuklah Kubu Raya yang dulunya merupakan wilayah dari Kabupaten Pontianak. Kebudayaan didefinisikan oleh (Supardan, 2013, hal. 172) sebagai bagian dari warisan manusia yang lebih banyak diwariskan melalui proses belajar daripada proses bawaan biologis.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online mendefinisikan “meriam adalah senjata berat yang larasnya besar dan panjang, pelurunya besar, sering diberi roda untuk memudahkan pengangkutannya.” Dahulu orang-orang ‘takut’ ketika mendengar bunyi meriam.

Mengapa demikian? Karena kala itu meriam merupakan sesuatu yang masih asing, dan jika pun ada bunyi meriam saat itu, menandakan bahwa adanya “perang”. Sebagai contoh seperti yang ditulis oleh (Anom, Sugiyanti, & Hadniwati, 1996, hal. 68) disebutkan bahwa “Meriam Honisot merupakan meriam terbesar di Bengkulu. Meriam ini pernah dipakai waktu Perang Dunia I dan Perang Dunia II sewaktu Jepang melawan Sekutu.”  

Menurut (Guillot & Kalus, 2008, hal. 156) menyebutkan bahwa meriam yang dijuluki Ki Amuk ini terdapat di Peta Kota Banten yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Castello di Firenze, Italia. Sedangkan menurut (Hatmadji, hal. 12) “Meriam ditembakan menandai pengumuman akan keputusan penting pemerintah.” Ini menunjukan bahwa meriam sesuatu yang berharga atau bernilai sejarah.”

Namun demikian, saat ini Meriam merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi kita khususnya masyarakat Kalimantan Barat, Meriam yang dahulunya sesuatu yang ditakuti kini dijadikan permainan bahkan menjadi “ Budaya Ramadhan” baik itu kalangan anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Berbagai jenis meriam baik yang terbuat dari bambu, batang kayu maupun paralon. Namun demikian, Permainan meriam ini jarang kita temukan saat selain ramadhan.

 Ada dua versi yang menuturkan sejarah penggunaan meriam di Kalimantan Barat, pertama, “Alkisah menurut orang-orang tua, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ketika menambatkan perahu dan membuka lahan kali pertama di Pontianak kerap diganggu oleh kuntilanak. Ada juga yang berpendapat bahwa yang menggangu itu adalah para bajak laut. Sultan kemudian memerintahkan anak buahnya untuk mengusir para pengganggu itu dengan meriam. Dalam bentuk dan makna yang berbeda, tradisi ini kemudian diikuti oleh masyarakat hingga saat ini. (Pontianak, 2015).”

Kedua, diceritakan “Asal-muasal Pontianak. 243 Tahun yang lalu, Syarif Abdurrahman Alkadrie menyisir Sungai Kapuas untuk mencari lokasi pembangunan istana. Istana Kadriah, bangunan pertama yang jadi tanda berdirinya Kota Pontianak. Syarif Abdurrahman merupakan orang yang telah memiliki pengalaman dalam berkeliling tempat dan membuka lahan. Di Pontianak, ia kerap diganggu oleh hantu Kuntilanak yang memang jadi penghuni di hutan sepanjang Sungai Kapuas. Sang Raja menembakkan meriam ke tiga tempat yang kemudian jadi 3 titik pembangunan Pontianak. Ternyata, tembakan meriam kencang itu berhasil menakuti para kuntilanak sehingga mereka pergi dari hutan Pontianak tutur Iskandar, kepada detikTravel beberapa waktu lalu. Ketiga titik tersebut adalah Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Abdurrahman dan pemakaman anggotak keluarga Kesultanan Pontianak. Sedangkan mengapa kota ini kemudian bernama Pontianak karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami tempat ini. Sedangkan warga lokal sering menyebutnya dengan nama puntianak. Meriam juga jadi salah satu ciri khas dari kota ini. Namanya meriam karbit. Dibuatnya dari mesiu dan air yang kemudian dipicu percikan api. Festival Meriam Karbit biasanya digelar untuk meramaikan malam Idul Fitri. Bunyi meriam dipercaya bisa menakuti para kuntilanak sehingga mereka tak berani mendekat (Shafa, 2005).”

Menurut Kreober dan Kluckhon ada enam pokok mengenai budaya yaitu :

1.    Definisi deskriftif: cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya.

2.    Definisi historis: cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialih-turunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya.

3.    Definisi normatif: bisa mengambil dua bentuk. Yang pertama, budaya adalah aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku.

4.    Definisi psikologis: cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecah masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya.

5.    Definisi struktural: mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya adalah abstraksi yang berbeda dai perilaku konkret.

6.    Definisi genetis: definisi budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Definisi ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Sutrisno & Putranto, 2005, hal. 9).

Definisi diatas berkaitan dengan pembahasan makalah ini adalah mendasari terjadinya kesinambungan turun temurun suatu budaya adalah yang disinggung oleh definisi historis dan genetis. Suatu budaya akan ditinggalkan dan akhirnya hilang bila tidak ada kesinambungan dalam pewarisan.

Meriam yang dahulunya dijadikan senjata kini bisa dijadikan permainan bahkan tidak jarang diadakan festival atau perlombaan meriam mulai dari bunyi sampai ke hiasan meriam itu sendiri. Permainan ini berbeda-beda pelaksanaannya khususnya di Kubu Raya, ada yang biasanya dimulai saat menjelang akhir ramadhan atau untuk memeriahkan malam idul fitri dan adapula yang memulai memainkannya awal ramadhan dengan membangunkan sahur dan tanda berbuka bagi masyarakat yang tidak mempunyai Radio, Televisi dan Jam.

Oleh karena itu, dalam bahasan ini akan penulis paparkan bagaimana permanian meriam pada bulan ramadhan di Kabupaten Kubu Raya dengan Kecamatan dan Desa yang berbeda yakni Desa Tasik Malaya Kecamatan Batu Ampar dan Desa Sungai Raya Kecamatan Sungai Raya.

 

B.       Permainan Meriam di Desa Tasik Malaya Kubu Raya

Meriam seperti yang dipaparkan diatas, dulunya dijadikan alat pertanda perang atau pengumuman oleh Pemerintah, kini dijadikan permainan dan bahkan menjadi budaya. Menurut para ahli, pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu yang biasa yang harus dipelajari, learning behaviour (Panjaitan, Darmawan, Maharani, Purba, Rachmad, & Simanjutak, 2014, hal. 4). Oleh karena itu, budaya main meriam saat ramadhan bisa akan punah dan bisa mengalami  perkembangan yang signifikan, semuanya bergantung pada masyarakat itu sendiri. Berikut jenis-jenis meriam di Desa Tasik Malaya yang penulis dapat dari berbagai keterangan masyarakatnya :

1.      Meriam Bulo dengan Menggunakan Minyak Tanah

Meriam “bulo” adalah meriam yang dibuat dari bambu kuning pada umumnya. Bambu yang dipilih adalah bambu yang memiliki jarak “takok” lebih panjang.

Dahulu anak-anak menggunakan meriam yang terbuat dari bambu, terutama bambu kuning yakni pada anak Tasik Malaya Kabupaten Kubu Raya. Bambu kuning yang berukuran besar dan memiliki ruas panjang (takok) dianggap tahan atau tidak mudah pecah saat digunakan. Bambu yang sudah kering atau sudah tua dapat dijadikan meriam. Pembuatannya yaitu dengan cara membuat lubang di bagian depan dengan memotong di ujung ruas dan melobangi ruas-ruas bambu dengan benda tajam seperti tombak dan lain sebagainya.

Belakang ruas bambu tidak lubangi agar minyak tanah tidak tumpah saat diisi. Pertengahan ruas belakang dan ruas didepannya dibuat lubang dengan cara mengukur pertengahan ruas depan dan belakangnya. Lubang ini berfungsi untuk memasukan minyak tanah. Posisi meriam yang sudah siap dibunyikan biasanya dibagian depan agak ditinggikan dengan cara memberi alas kayu atau tempat yang tinggi.

Meninggikan bagian depan ini mempunyai tiga tujuan, yakni pertama agar minyak yang diisi dibagian belakang tidak tumpah ke bagian depan, kedua agar bunyi meriam lebih nyaring dan besar karena lebih tinggi diatas tanah. Ketiga posisi meletakkan meniru atau mencontoh meriam terdahulu yang zaman penjajahan.

Untuk membunyikan meriam diperlukan minyak tanah, minyak tanah yang sudah dimasukan didalam meriam lalu dibunyikan dengan api yang biasa disiapkan dari api pelita atau obor. Ketika api meriam sudah hidup barulah ditiup, agar mengeluarkan bunyi yang besar. Bunyi yang besar akan didapat ketika bambu sudah semakin panas akibat pembakaran dengan minyak tanah tersebut.

Meriam yang dibunyikan dengan minyak tanah berisiko bagi yang meniup untuk membunyikannya karena api yang ditiup dari lubang tempat mengisi minyak tanah bisa mengeluarkan api. Penggunaan meriam dengan minyak tanah kala itu karena memang belum canggih seperti sekarang ini yakni dengan menggunakan karbit atau alat lainnya. Meriam ramadhan ini dijadikan Budaya bagi masyarakat setempat.

Pelaksanan Budaya semacam ini masuk dalam istilah Ramond Williams yakni “penggunaan istilah budaya yang menggambarkan keseluruhan cara hidup, berkegiatan, keyakinan-keyakinan, dan adat kebiasaan sejumlah orang, kelompok atau masyarakat  (Sutrisno & Putranto, 2005, hal. 8).“

Gambar 1. Meriam bulo yang menggunakan minyak tanah untuk membunyikannya. Setiap akan dibunyikan, bambu ini harus dibuat hangat terlebih dahulu agar menghasilkan bunyi yang nyaring.

 

2.      Meriam bulo dengan menggunakan Karbit

Seiiring berjalannya waktu dan modernnya teknologi anak-anak masyarakat Tasik Malaya inipun menggunakan meriam bambu dengan alat membunyikannya yakni karbit. Karbit dimasukan di lubang ruas belakang lalu diisi air, kemudian dibagian depan meriam ditutup dan lubang tempat memasukan air dan karbit juga ditutup. Seteleh beberapa menit kemudian atau setelah tidak ada lagi bunyi meriam karbit berdesir atau mendidih baru dibuka kedua penutup itu dan baru dibunyikan dengan cara memberikan api yang sudah disiapkan ke lubang tempat mengisi air dan karbit tersebut.

Meriam yang menggunakan karbit lebih sederhana dan mudah untuk dibunyikan biayapun relatif murah jika dibandingkan dengan harus menggunakan minyak tanah, terlebih lagi adanya kelangkaan minyak tanah. Perbedaan cara menghidupkan meriam bambu yang dari minyak tanah dan karbit adalah, jika karbit lubang yang dibelakang dan ditutup, sementara yang menggunakan minyak tanah dua-duanya dibuka. Persamaannya sama-sama menggunakan bambu dan cara membunyikannya juga harus dengan api.

Gambar 2. meriam bambu membunyikannya dengan karbit.

 

 

3.      Meriam Kayu yang menggunakan Karbit

Meriam yang awalnya dari bambu dan membunyikannya dengan minyak tanah terus mengalami perubahan, baik dari segi bahan maupun bunyi. Dari bahan pembuatannya yakni dari kayu. Kayu atau biasa disebut balok yang besar dapat digunakan untuk meriam. Meriam yang terbuat dari balok ini dapat dibunyikan dengan menggunakan karbit, karena dengan ukurannya yang besar maka karbitlah yang bisa digunakan untuk membunyikannya.

Karbit yang digunakan tentu lebih banyak dibanding dengan meriam bambu, dengan tujuan agar bunyinya lebih besar dan nyaring. Meriam ini dibunyikan khusus bulan ramadhan yakni untuk tanda sahur dan tanda buka puasa. Menggunaan meriam inilah yang hemat penulis menarik dan berbeda dengan budaya-budaya masyarakat diluar Desa Tasik Malaya.

Meriam yang besar dan panjang dari batang kayu ini dibunyikan 2 kali dalam sehari yakni untuk memberitahukan bahwa sudah tiba waktunya sahur dan berbuka puasa. Hal inilah yang menurut penulis menarik dan menjadi “Budaya Ramadhan” yang harus dipertahankan karena melihat kebermanfaatannya. Orang yang punya meriam ini biasanya mempunyai radio.

Radio digunakan untuk mendengar adzan magrib sebagai tanda waktu berbuka puasa. Radio yang didengarkan adalah Radio Republik Indonesia (RRI). Pembunyian meriam sangat bermanfaat bagi masyarakat yang tidak mempunyai jam, radio maupun televisi sehingga khusus jadwal berbuka puasa mereka selalu menggunakan bunyi meriam yang terbuat dari batang pohon yang besar bunyinya ini.

Jika meriam tidak berbunyi sementara matahari sudah terbenam, maka masyarakat yang tidak punya tanda akan masuk waktu berbuka puasa “berijtihad” mendengar adzan atau memastikan sampai matahari tidak ada lagi yang cahayanya.

Pertanyaan kenapa tidak menunggu adzan magrib? Adzan magrib yang dilaksanakan orang biasanya setelah mereka berbuka puasa di rumahnya, terkadang selisih waktu berbuka relatif lama, adzan yang tepat waktu diwaktu magrib kalau ada buka bersama (bukber). Namun demikian, terkadang ada orang yang mengkhususkan dirinya menunggu waktu buka puasa dengan membawa jam atau radio yang bisa didengar adzannya lalu ia adzan di masjid itu.

Gambar 3. Gambar meriam yang terbuat dari batang pohon kayu.

Penggunaan meriam inipun tidak terlepas dari kekurangan, misalnya bertambahnya pengeluaran orang dan bunyi yang bisa mengganggu anak kecil atau bayi baik yang lagi tidur maupun tidak, karena ia bisa terkejut dengan bunyi yang besar dan tentu akan mengejutkannya.

Namun demikian, Hemat penulis bahwa meriam walaupun memerlukan biaya dan cukup  menguras tenaga ini, akan terus mengalami perubahan dan perkembangan baik dari segi bahan pembuatan maupun bunyi. Karena ia sudah menjadi “budaya masyarakat” atau budaya meriam ramadhan masyarakat Kalimantan Barat khususnya di Kubu Raya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

 

C.    Permainan Meriam di Gang Kapuas jalan Adi Sucipto Kubu Raya

            Meriam ramadhan menjadi hangat diperbincangkan saat bulan ramadhan ini khususnya di Kalimantan Barat, hal ini tentu disebabkan karena memang permainan ini hadir setahun sekali, tentu kerinduan akan menyelimuti masyarakat yang hobi dengan permainan ini. Terlebih lagi Kota Pontianak sering mengadakan festival meriam karbit dimalam Idul Fitri, yang secara tidak langsung akan memotivasi masyarakat yang hobi dengan meriam untuk memperbaiki meriamnya dan memperbaiki serta meriasnya dengan sebaik mungkin.

Begitu juga dengan masyarakat yang ada di gang Kapuas. Mereka mempersiapkan waktu “khusus” untuk membunyikan permainan ini. Namun yang menarik lagi dan tentu berbeda dengan meriam yang dimainkan oleh masyarakat Desa Tasik Malaya yakni bahan pembuatan meriam itu sendiri. Walau berada di Kabupaten yang sama namun tidak semua permainan yang namanya sama dibuat dengan bahan sama juga. Ini terlihat dari permainan meriam. Jika di Tasik Malaya tadi meriam dibuat dengan bambu dan kayu, tetapi khusus di Gang Kapuas Jalan Adi Sucipto ini meriam dibuat dengan menggunakan paralon.

Berdasarkan keterangan Pak Johansyah yang merupakan warga gang Kapuas ini ada tiga jenis ukuran paralon  yang digunakan. Pipa paralon berukuran 8 meter, 6 meter dan 4 meter masing terdapat 2 buah cara pembuatan meriam inipun (baca” meriam paralon) sama meski masing-masing berbeda ukuran panjang dan besarnya. Meriam dari paralon ini cara membuatnya yakni belakang paralon ditutup dengan  “penampang” (tambalan) semen agar air dan karbit yang sudah digunakan bisa keluar.

Ada 2 lubang kecil dalam satu meriam. Lubang bagian atas tempat untuk memasukan air dan karbit. Pembuatan jarak lubang memasukan karbit dengan cara mengukur besarnya lubang paralon, jika lubang paralon 30 cm maka untuk membuat  jarak lubang dengan penampang semen bagian belakang tempat memasukan karbit dan air dibuat lebih banyak dari besarnya lubang paralon tersebut.

Lubang bagian bawah tempat mengeluarkan atau membersihkan karbit yang sudah digunakan, dilubang bawah ini dibuat penampal atau tutup dari kayu bulat sebesar ‘mata’ kakap. Mata kakap itu seperti pasak pada tiang. Cara membunyikan meriam yakni Karbit dan air dimasukan dilubang meriam bagian belakang atau lubang atas, karbit dibiarkan selama kurang lebih 7 menit, lubang bagian depan dan lubang atas harus ditutup. Setelah 7 menit baru meriam karbit ini dibunyikan dengan api yang sudah disiapkan, imbuhnya.

Pak Johansyah lebih lanjut menjelaskan bahwa Meriam karbit yang terbuat dari paralon di gang Kapuas jalan Adi Sucipto ini, dibunyikan di waktu-waktu “khusus” yakni saat pertengahan puasa ramadhan atau puasa kelima belas sampai malam lebaran idul fitri. Penggunaan meriam ini tentu menarik karena ia terbuat dari paralon dengan tetap menggunakan karbit untuk membunyikannya.

Meriam ini biasa dibunyikan sebelum magrib, setelah magrib maupun setelah isya. Meriam ini dibunyikan tidak untuk memberitahukan waktu berbuka puasa maupun waktu untuk sahur. Akan tetapi, pembunyiaan ini untuk memeriahkan ramadhan yang tidak lama lagi berakhir dan memeriahkan malam lebaran idul fitri.

Gambar 4 ini menunjukan meriam karbit paralon yang sudah dihias atau meriam ini siap untuk ikut festival.

 

D.    Kesimpulan

Permainan meriam bambu, meriam kayu maupun paralon sudah menjadi budaya masyarakat Kubu Raya khususnya saat bulan ramadhan. Walaupun berbeda bahan dan cara membunyikannya namun tentu tujuannya tetap sama yakni memeriahkan ramadhan dan menjadi budaya lokal yang menarik untuk di Kalimantan Barat khususnnya Kubu Raya.

Tinggal bagaimana kita  menyikapi dan terus memperbaikinya sebagai wahana pemersatu kebudayaan. Adanya kesamaan budaya dari tempat yang berbeda akan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam bingkai keberagamaan antar sesama manusia. Ia mesti dipupuk dan diperbaiki agar tidak punah. Menjadi tugas kita bersama adalah bagaiman budaya membunyikan meriam yang harus lebih diperhitungkan waktu dan kondisi masyarakat sekitarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Anom, I., Sugiyanti, S., & Hadniwati, H. (1996). Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Guillot, C., & Kalus, L. (2008). Inskripsi Islam tertu di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Hatmadji, T. Ragam Pusaka Budaya Banten. Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Panjaitan, A. P., Darmawan, A., Maharani, Purba, I. R., Rachmad, Y., & Simanjutak, R. (2014). Korelasi Kebudayaan & Pendidikan Membangun Pendidikan Berbasis Budaya Lokal. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Pontianak, B. (2015, Juli). http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbpontianak/2015/07/23/dentuman-suara-ratusan-meriam-karbit-memeriahkan-festival-tradisi-akhir-ramadhan-di-kota-pontianak/. Dipetik Juni Selasa, 2016

Shafa, F. (2005, Agustus Kamis). http://travel.detik.com/read/2015/08/27/072331/3002465/1519/kuntilanak--meriam-begini-asal-muasal-kota-pontianak. Dipetik Juni Senin, 2016

Supardan, D. (2013). Ilmu Pengantar Sosial " Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara.

Sutrisno, M., & Putranto, H. (2005). Teori-teori Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Utama, E. J. (2013). Materi Sejarah dalam Buku Teks Muatan Lokal Pendidikan Multikultur Kalimantan Barat. SOCIA , 160.

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar