Budaya
Meriam Saat Ramadhan di Kubu Raya
Oleh:
Heriansyah (08565456191)
Kita sudah mengetahui bersama bahwa
Indonesia kaya akan budaya (culture), mulai dari suku bahkan sampai
agama yang kesemuanya memiliki budaya yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang
harus dirawat dalam bingkai keberagaman Bhineka Tunggal Ika. Seiring
berjalannya waktu tidak menutup kemungkinan budaya tersebut ditinggalkan karena
dianggap sudah tidak maju lagi dan tidak sesuai dengan zaman.
Pepatah kuno mengatakan “Tempus
mutantur, et nos mutamur in illid artinya waktu berubah dan kita (ikut)
berubah juga didalamnya” (Sutrisno & Putranto, 2005, hal. 7). Begitu juga dengan
Budaya Meriam Ramadhan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat Kabupaten
Kubu Raya, tentu akan mengalami perubahan bahkan budaya ini jika tidak
dipertahankan akan bisa punah. Oleh karena itu, Meriam harus tetap
dipertahankan sebagai “budaya” yang seiring dengan zaman akan mengalami
perubahan. Kegiatan bermain meriam karbit merupakan tradisi bagi
masyarakat Melayu Pontianak, demikian ujaran (Utama, 2013).
Namun, seiring berjalannya waktu
masyarakat sekitar Pontianak juga mulai menyukai dan menjadikan meriam sebagai
kebudayaan termasuklah Kubu Raya yang dulunya merupakan wilayah dari Kabupaten
Pontianak. Kebudayaan didefinisikan oleh (Supardan, 2013, hal. 172) sebagai bagian dari
warisan manusia yang lebih banyak diwariskan melalui proses belajar daripada
proses bawaan biologis.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online
mendefinisikan “meriam adalah senjata berat yang larasnya besar dan panjang,
pelurunya besar, sering diberi roda untuk memudahkan pengangkutannya.” Dahulu
orang-orang ‘takut’ ketika mendengar bunyi meriam.
Mengapa demikian? Karena kala itu
meriam merupakan sesuatu yang masih asing, dan jika pun ada bunyi meriam saat
itu, menandakan bahwa adanya “perang”. Sebagai contoh seperti yang ditulis oleh
(Anom, Sugiyanti, & Hadniwati, 1996, hal. 68) disebutkan bahwa “Meriam
Honisot merupakan meriam terbesar di Bengkulu. Meriam ini pernah dipakai waktu
Perang Dunia I dan Perang Dunia II sewaktu Jepang melawan Sekutu.”
Menurut (Guillot & Kalus, 2008, hal. 156) menyebutkan bahwa
meriam yang dijuluki Ki Amuk ini terdapat di Peta Kota Banten yang sekarang
tersimpan di Perpustakaan Castello di Firenze, Italia. Sedangkan menurut (Hatmadji, hal. 12) “Meriam ditembakan
menandai pengumuman akan keputusan penting pemerintah.” Ini menunjukan bahwa
meriam sesuatu yang berharga atau bernilai sejarah.”
Namun demikian, saat ini Meriam
merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi kita khususnya masyarakat Kalimantan
Barat, Meriam yang dahulunya sesuatu yang ditakuti kini dijadikan permainan
bahkan menjadi “ Budaya Ramadhan” baik itu kalangan anak-anak, remaja, dewasa
maupun orang tua. Berbagai jenis meriam baik yang terbuat dari bambu, batang
kayu maupun paralon. Namun demikian, Permainan meriam ini jarang kita temukan
saat selain ramadhan.
Ada dua versi yang menuturkan sejarah
penggunaan meriam di Kalimantan Barat, pertama, “Alkisah menurut orang-orang tua,
Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ketika menambatkan perahu dan membuka lahan
kali pertama di Pontianak kerap diganggu oleh kuntilanak. Ada juga yang
berpendapat bahwa yang menggangu itu adalah para bajak laut. Sultan kemudian
memerintahkan anak buahnya untuk mengusir para pengganggu itu dengan meriam.
Dalam bentuk dan makna yang berbeda, tradisi ini kemudian diikuti oleh
masyarakat hingga saat ini. (Pontianak,
2015).”
Kedua, diceritakan “Asal-muasal
Pontianak. 243 Tahun yang lalu, Syarif Abdurrahman Alkadrie menyisir Sungai
Kapuas untuk mencari lokasi pembangunan istana. Istana Kadriah, bangunan
pertama yang jadi tanda berdirinya Kota Pontianak. Syarif Abdurrahman merupakan
orang yang telah memiliki pengalaman dalam berkeliling tempat dan membuka
lahan. Di Pontianak, ia kerap diganggu oleh hantu Kuntilanak yang memang jadi
penghuni di hutan sepanjang Sungai Kapuas. Sang Raja menembakkan meriam ke tiga
tempat yang kemudian jadi 3 titik pembangunan Pontianak. Ternyata, tembakan
meriam kencang itu berhasil menakuti para kuntilanak sehingga mereka pergi dari
hutan Pontianak tutur Iskandar, kepada detikTravel beberapa waktu lalu. Ketiga
titik tersebut adalah Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Abdurrahman dan
pemakaman anggotak keluarga Kesultanan Pontianak. Sedangkan mengapa kota ini
kemudian bernama Pontianak karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami
tempat ini. Sedangkan warga lokal sering menyebutnya dengan nama puntianak.
Meriam juga jadi salah satu ciri khas dari kota ini. Namanya meriam karbit.
Dibuatnya dari mesiu dan air yang kemudian dipicu percikan api. Festival Meriam
Karbit biasanya digelar untuk meramaikan malam Idul Fitri. Bunyi meriam
dipercaya bisa menakuti para kuntilanak sehingga mereka tak berani mendekat (Shafa, 2005).”
Menurut Kreober dan Kluckhon ada
enam pokok mengenai budaya yaitu :
1.
Definisi deskriftif:
cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun
keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian)
yang membentuk budaya.
2. Definisi historis: cenderung melihat budaya sebagai warisan yang
dialih-turunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya.
3. Definisi normatif: bisa mengambil dua bentuk. Yang pertama, budaya adalah
aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakan yang
konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku.
4. Definisi psikologis: cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai
piranti pemecah masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau
memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya.
5. Definisi struktural: mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara
aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya
adalah abstraksi yang berbeda dai perilaku konkret.
6. Definisi genetis: definisi budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya
itu bisa eksis atau tetap bertahan. Definisi ini cenderung melihat budaya lahir
dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari
satu generasi ke generasi berikutnya (Sutrisno & Putranto, 2005, hal. 9).
Definisi diatas berkaitan dengan pembahasan makalah
ini adalah mendasari terjadinya kesinambungan turun temurun suatu budaya adalah
yang disinggung oleh definisi historis dan genetis. Suatu budaya akan
ditinggalkan dan akhirnya hilang bila tidak ada kesinambungan dalam pewarisan.
Meriam yang dahulunya dijadikan
senjata kini bisa dijadikan permainan bahkan tidak jarang diadakan festival
atau perlombaan meriam mulai dari bunyi sampai ke hiasan meriam itu sendiri. Permainan
ini berbeda-beda pelaksanaannya khususnya di Kubu Raya, ada yang biasanya
dimulai saat menjelang akhir ramadhan atau untuk memeriahkan malam idul fitri
dan adapula yang memulai memainkannya awal ramadhan dengan membangunkan sahur
dan tanda berbuka bagi masyarakat yang tidak mempunyai Radio, Televisi dan Jam.
Oleh karena itu, dalam bahasan ini
akan penulis paparkan bagaimana permanian meriam pada bulan ramadhan di
Kabupaten Kubu Raya dengan Kecamatan dan Desa yang berbeda yakni Desa Tasik
Malaya Kecamatan Batu Ampar dan Desa Sungai Raya Kecamatan Sungai Raya.
Meriam seperti yang dipaparkan
diatas, dulunya dijadikan alat pertanda perang atau pengumuman oleh Pemerintah,
kini dijadikan permainan dan bahkan menjadi budaya. Menurut para ahli,
pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Sedangkan kebudayaan adalah sesuatu
yang biasa yang harus dipelajari, learning behaviour (Panjaitan, Darmawan, Maharani, Purba, Rachmad, &
Simanjutak, 2014, hal. 4). Oleh karena itu, budaya main meriam
saat ramadhan bisa akan punah dan bisa mengalami perkembangan yang signifikan, semuanya
bergantung pada masyarakat itu sendiri. Berikut jenis-jenis meriam di Desa
Tasik Malaya yang penulis dapat dari berbagai keterangan masyarakatnya :
Meriam “bulo” adalah meriam yang
dibuat dari bambu kuning pada umumnya. Bambu yang dipilih adalah bambu yang
memiliki jarak “takok” lebih panjang.
Dahulu anak-anak menggunakan meriam
yang terbuat dari bambu, terutama bambu kuning yakni pada anak Tasik Malaya
Kabupaten Kubu Raya. Bambu kuning yang berukuran besar dan memiliki ruas
panjang (takok) dianggap tahan atau tidak mudah pecah saat digunakan. Bambu
yang sudah kering atau sudah tua dapat dijadikan meriam. Pembuatannya yaitu
dengan cara membuat lubang di bagian depan dengan memotong di ujung ruas dan
melobangi ruas-ruas bambu dengan benda tajam seperti tombak dan lain
sebagainya.
Belakang ruas bambu tidak lubangi
agar minyak tanah tidak tumpah saat diisi. Pertengahan ruas belakang dan ruas
didepannya dibuat lubang dengan cara mengukur pertengahan ruas depan dan
belakangnya. Lubang ini berfungsi untuk memasukan minyak tanah. Posisi meriam
yang sudah siap dibunyikan biasanya dibagian depan agak ditinggikan dengan cara
memberi alas kayu atau tempat yang tinggi.
Meninggikan bagian depan ini
mempunyai tiga tujuan, yakni pertama agar minyak yang diisi dibagian belakang
tidak tumpah ke bagian depan, kedua agar bunyi meriam lebih nyaring dan besar
karena lebih tinggi diatas tanah. Ketiga posisi meletakkan meniru atau
mencontoh meriam terdahulu yang zaman penjajahan.
Untuk membunyikan meriam diperlukan
minyak tanah, minyak tanah yang sudah dimasukan didalam meriam lalu dibunyikan
dengan api yang biasa disiapkan dari api pelita atau obor. Ketika api meriam
sudah hidup barulah ditiup, agar mengeluarkan bunyi yang besar. Bunyi yang
besar akan didapat ketika bambu sudah semakin panas akibat pembakaran dengan
minyak tanah tersebut.
Meriam yang dibunyikan dengan minyak
tanah berisiko bagi yang meniup untuk membunyikannya karena api yang ditiup
dari lubang tempat mengisi minyak tanah bisa mengeluarkan api. Penggunaan
meriam dengan minyak tanah kala itu karena memang belum canggih seperti sekarang
ini yakni dengan menggunakan karbit atau alat lainnya. Meriam ramadhan ini
dijadikan Budaya bagi masyarakat setempat.
Pelaksanan Budaya semacam ini masuk
dalam istilah Ramond Williams yakni “penggunaan istilah budaya yang
menggambarkan keseluruhan cara hidup, berkegiatan, keyakinan-keyakinan, dan
adat kebiasaan sejumlah orang, kelompok atau masyarakat (Sutrisno & Putranto, 2005, hal.
8).“
Gambar 1. Meriam bulo yang
menggunakan minyak tanah untuk membunyikannya. Setiap akan dibunyikan, bambu
ini harus dibuat hangat terlebih dahulu agar menghasilkan bunyi yang nyaring.
Seiiring berjalannya waktu dan
modernnya teknologi anak-anak masyarakat Tasik Malaya inipun menggunakan meriam
bambu dengan alat membunyikannya yakni karbit. Karbit dimasukan di lubang ruas
belakang lalu diisi air, kemudian dibagian depan meriam ditutup dan lubang
tempat memasukan air dan karbit juga ditutup. Seteleh beberapa menit kemudian
atau setelah tidak ada lagi bunyi meriam karbit berdesir atau mendidih baru
dibuka kedua penutup itu dan baru dibunyikan dengan cara memberikan api yang
sudah disiapkan ke lubang tempat mengisi air dan karbit tersebut.
Meriam yang menggunakan karbit lebih
sederhana dan mudah untuk dibunyikan biayapun relatif murah jika dibandingkan
dengan harus menggunakan minyak tanah, terlebih lagi adanya kelangkaan minyak
tanah. Perbedaan cara menghidupkan meriam bambu yang dari minyak tanah
dan karbit adalah, jika karbit lubang yang dibelakang dan ditutup, sementara
yang menggunakan minyak tanah dua-duanya dibuka. Persamaannya sama-sama
menggunakan bambu dan cara membunyikannya juga harus dengan api.
Gambar 2. meriam bambu
membunyikannya dengan karbit.
Meriam yang awalnya dari bambu dan
membunyikannya dengan minyak tanah terus mengalami perubahan, baik dari segi bahan
maupun bunyi. Dari bahan pembuatannya yakni dari kayu. Kayu atau biasa disebut
balok yang besar dapat digunakan untuk meriam. Meriam yang terbuat dari balok
ini dapat dibunyikan dengan menggunakan karbit, karena dengan ukurannya yang
besar maka karbitlah yang bisa digunakan untuk membunyikannya.
Karbit yang digunakan tentu lebih
banyak dibanding dengan meriam bambu, dengan tujuan agar bunyinya lebih besar
dan nyaring. Meriam ini dibunyikan khusus bulan ramadhan yakni untuk tanda
sahur dan tanda buka puasa. Menggunaan meriam inilah yang hemat penulis menarik
dan berbeda dengan budaya-budaya masyarakat diluar Desa Tasik Malaya.
Meriam yang besar dan panjang dari
batang kayu ini dibunyikan 2 kali dalam sehari yakni untuk memberitahukan bahwa
sudah tiba waktunya sahur dan berbuka puasa. Hal inilah yang menurut penulis
menarik dan menjadi “Budaya Ramadhan” yang harus dipertahankan karena melihat
kebermanfaatannya. Orang yang punya meriam ini biasanya mempunyai radio.
Radio digunakan untuk mendengar
adzan magrib sebagai tanda waktu berbuka puasa. Radio yang didengarkan adalah
Radio Republik Indonesia (RRI). Pembunyian meriam sangat bermanfaat bagi
masyarakat yang tidak mempunyai jam, radio maupun televisi sehingga khusus
jadwal berbuka puasa mereka selalu menggunakan bunyi meriam yang terbuat dari
batang pohon yang besar bunyinya ini.
Jika meriam tidak berbunyi sementara
matahari sudah terbenam, maka masyarakat yang tidak punya tanda akan masuk
waktu berbuka puasa “berijtihad” mendengar adzan atau memastikan sampai matahari
tidak ada lagi yang cahayanya.
Pertanyaan kenapa tidak menunggu
adzan magrib? Adzan magrib yang dilaksanakan orang biasanya setelah mereka
berbuka puasa di rumahnya, terkadang selisih waktu berbuka relatif lama, adzan
yang tepat waktu diwaktu magrib kalau ada buka bersama (bukber). Namun demikian,
terkadang ada orang yang mengkhususkan dirinya menunggu waktu buka puasa dengan
membawa jam atau radio yang bisa didengar adzannya lalu ia adzan di masjid itu.
Gambar 3. Gambar meriam yang terbuat
dari batang pohon kayu.
Penggunaan meriam inipun tidak
terlepas dari kekurangan, misalnya bertambahnya pengeluaran orang dan bunyi
yang bisa mengganggu anak kecil atau bayi baik yang lagi tidur maupun tidak,
karena ia bisa terkejut dengan bunyi yang besar dan tentu akan mengejutkannya.
Namun demikian, Hemat penulis bahwa
meriam walaupun memerlukan biaya dan cukup
menguras tenaga ini, akan terus mengalami perubahan dan perkembangan
baik dari segi bahan pembuatan maupun bunyi. Karena ia sudah menjadi “budaya
masyarakat” atau budaya meriam ramadhan masyarakat Kalimantan Barat khususnya
di Kubu Raya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Meriam
ramadhan menjadi hangat diperbincangkan saat bulan ramadhan ini khususnya di
Kalimantan Barat, hal ini tentu disebabkan karena memang permainan ini hadir
setahun sekali, tentu kerinduan akan menyelimuti masyarakat yang hobi dengan
permainan ini. Terlebih lagi Kota Pontianak sering mengadakan festival meriam
karbit dimalam Idul Fitri, yang secara tidak langsung akan memotivasi masyarakat
yang hobi dengan meriam untuk memperbaiki meriamnya dan memperbaiki serta
meriasnya dengan sebaik mungkin.
Begitu juga dengan masyarakat yang
ada di gang Kapuas. Mereka mempersiapkan waktu “khusus” untuk membunyikan
permainan ini. Namun yang menarik lagi dan tentu berbeda dengan meriam yang
dimainkan oleh masyarakat Desa Tasik Malaya yakni bahan pembuatan meriam itu
sendiri. Walau berada di Kabupaten yang sama namun tidak semua permainan yang
namanya sama dibuat dengan bahan sama juga. Ini terlihat dari permainan meriam.
Jika di Tasik Malaya tadi meriam dibuat dengan bambu dan kayu, tetapi khusus di
Gang Kapuas Jalan Adi Sucipto ini meriam dibuat dengan menggunakan paralon.
Berdasarkan keterangan Pak Johansyah
yang merupakan warga gang Kapuas ini ada tiga jenis ukuran paralon yang digunakan. Pipa paralon berukuran 8
meter, 6 meter dan 4 meter masing terdapat 2 buah cara pembuatan meriam inipun
(baca” meriam paralon) sama meski masing-masing berbeda ukuran panjang dan
besarnya. Meriam dari paralon ini cara membuatnya yakni belakang paralon
ditutup dengan “penampang” (tambalan) semen
agar air dan karbit yang sudah digunakan bisa keluar.
Ada 2 lubang kecil dalam satu
meriam. Lubang bagian atas tempat untuk memasukan air dan karbit. Pembuatan jarak
lubang memasukan karbit dengan cara mengukur besarnya lubang paralon, jika
lubang paralon 30 cm maka untuk membuat jarak lubang dengan penampang semen bagian
belakang tempat memasukan karbit dan air dibuat lebih banyak dari besarnya
lubang paralon tersebut.
Lubang bagian bawah tempat
mengeluarkan atau membersihkan karbit yang sudah digunakan, dilubang bawah ini
dibuat penampal atau tutup dari kayu bulat sebesar ‘mata’ kakap. Mata kakap itu
seperti pasak pada tiang. Cara membunyikan meriam yakni Karbit dan air dimasukan
dilubang meriam bagian belakang atau lubang atas, karbit dibiarkan selama
kurang lebih 7 menit, lubang bagian depan dan lubang atas harus ditutup.
Setelah 7 menit baru meriam karbit ini dibunyikan dengan api yang sudah
disiapkan, imbuhnya.
Pak Johansyah lebih lanjut
menjelaskan bahwa Meriam karbit yang terbuat dari paralon di gang Kapuas jalan
Adi Sucipto ini, dibunyikan di waktu-waktu “khusus” yakni saat pertengahan
puasa ramadhan atau puasa kelima belas sampai malam lebaran idul fitri.
Penggunaan meriam ini tentu menarik karena ia terbuat dari paralon dengan tetap
menggunakan karbit untuk membunyikannya.
Meriam ini biasa dibunyikan sebelum
magrib, setelah magrib maupun setelah isya. Meriam ini dibunyikan tidak untuk
memberitahukan waktu berbuka puasa maupun waktu untuk sahur. Akan tetapi,
pembunyiaan ini untuk memeriahkan ramadhan yang tidak lama lagi berakhir dan
memeriahkan malam lebaran idul fitri.
Gambar 4 ini menunjukan meriam
karbit paralon yang sudah dihias atau meriam ini siap untuk ikut festival.
Permainan meriam bambu, meriam kayu
maupun paralon sudah menjadi budaya masyarakat Kubu Raya khususnya saat bulan
ramadhan. Walaupun berbeda bahan dan cara membunyikannya namun tentu tujuannya
tetap sama yakni memeriahkan ramadhan dan menjadi budaya lokal yang menarik
untuk di Kalimantan Barat khususnnya Kubu Raya.
Tinggal bagaimana kita menyikapi dan terus memperbaikinya sebagai
wahana pemersatu kebudayaan. Adanya kesamaan budaya dari tempat yang berbeda
akan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam bingkai keberagamaan antar sesama
manusia. Ia mesti dipupuk dan diperbaiki agar tidak punah. Menjadi tugas kita
bersama adalah bagaiman budaya membunyikan meriam yang harus lebih
diperhitungkan waktu dan kondisi masyarakat sekitarnya.
Daftar
Pustaka
Anom, I., Sugiyanti, S., &
Hadniwati, H. (1996). Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP 1.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Guillot, C., &
Kalus, L. (2008). Inskripsi Islam tertu di Indonesia. Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia.
Hatmadji, T. Ragam Pusaka Budaya Banten.
Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Panjaitan, A. P.,
Darmawan, A., Maharani, Purba, I. R., Rachmad, Y., & Simanjutak, R. (2014).
Korelasi Kebudayaan & Pendidikan Membangun Pendidikan Berbasis Budaya
Lokal. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Pontianak, B. (2015, Juli). http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbpontianak/2015/07/23/dentuman-suara-ratusan-meriam-karbit-memeriahkan-festival-tradisi-akhir-ramadhan-di-kota-pontianak/.
Dipetik Juni Selasa, 2016
Shafa, F. (2005, Agustus Kamis). http://travel.detik.com/read/2015/08/27/072331/3002465/1519/kuntilanak--meriam-begini-asal-muasal-kota-pontianak.
Dipetik Juni Senin, 2016
Supardan, D. (2013). Ilmu Pengantar Sosial
" Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara.
Sutrisno, M., & Putranto, H. (2005). Teori-teori
Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Utama, E. J. (2013). Materi Sejarah dalam Buku
Teks Muatan Lokal Pendidikan Multikultur Kalimantan Barat. SOCIA , 160.