Selasa, 10 Maret 2020

Kurangi kecepatan Kendaraan



Oleh : Heriansyah




Ternyata! Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita disuguhkan berita kecelakaan lalu lintas atau Lakalantas. Tak peduli tua atau pun muda pernah terdengar dan terlihat menjadi korban lakantas. Bahkan, mungkin sanak saudara kita pernah mengalaminya. Baik yang meninggal maupun yang dirawat di rumah sakit. Dan tentu hal ini merugikan baik korban, tersangka maupun keluarga korban.


Anehnya, dengan lakalantas yang tiap hari terjadi dan kita saksikan itu, membuat kita seperti sudah terbiasa dengan hal itu. Dan mungkin, karena tingginya intensitas lakantas itu, sehingga membuat respon kita kalaw tidak kaget ringan, ya ucapan prihatin dll. Sebagai seorang manusia, hal ini mungkin wajar. Apa lagi yang mengaitkan dengan ini sudah ‘takdir’ dan suratannya. Tentu hal semacam ini, seakan lakantas adalah suatu yang bersifat keniscayaan dan tidak bisa dihindari atau dipungkiri.

Namun, akan sangat berbeda, dengan statement pembalap Daniel Ricciardo”...sudah saatnya saya menekan pelatuk. Saya akan lebih senang mengalami kecelakaan karena sudah berusaha tampil ngotot, daripada hanya membalap dibelakang orang-orang yang itu-itu saja selama 70 lap (lihat: Pontianak Post, 22/3/2018). 

Oleh karena itu, Karena masyarakat kita bukan semuanya pembalap dan pensiunan pembalap. Maka, kiranya penting untuk mempertimbangkan keselamatan banyak orang saat berkendaraan.

Terkait dengan judul diatas, maka paling tidak kita harus dapat melakukan hal-hal berikut: pertama, kita harus mengurangi kecepatan saat berkendaraan. Maka dengan otomatis lakalantas akan bisa dihindari dan dicegah. Kedua, mengurangi kecepatan yang ada dikendaraan itu sendiri. Jika dengan beralasan kurangnya kecepatan kendaraan membuat urusan transportasi semakin lama, maka cara kita harus memanjemen waktu dengan baik. Artinya, kita bisa berangkat lebih awal dengan kecepatan yang telah dikurangi untuk menutup kecepatan yang biasa kita gunakan.

Pernahkah kita berusaha mencegah agar korban lakalantas tidak selalu bertambah? Pernah sich tapi mungkin tidak maksimal. Ya.  Karena apa daya kita untuk mengingatkan orang agar terhindar dari lakantas, sementara mereka sendiri masih sering mengabaikn kalimat 'lebih baik kehilangan waktu dalam 1 menit daripada kehilangan hidup dalam 1 menit'.

Oleh karena itu, yang tidak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran diri dalam berkendaraan. Karena apapun, jika dilakukan dengan kesadaran diri sendiri, akan menghasilkan atau mempengaruhi orang-orang sekitar. Bahkan, keluarga pun akan ikut membangun kesadaran itu. Dengan kesadaran diri sendiri, sebenarnya kita telah membangun sebuah sistim preventif yang kuat bagi Indonesia, dalam rangka mencegah kecelakaan lalu lintas.

Misalnya, kita bayangkan, jika setiap orang sadar akan bahaya lakalantas, kemudian mereka melaksanakan dan mengkampenyakan pencegahan lakalantas, maka secara tidak langsung setiap orang menjadi duta anti lakantas. Karena tiap diri tahu akan tanggung jawabnya sebagai duta pencegahan lakalantas. Bukankah, dari diri sendiri akan berdampak ke masyarakat dan terus sampai kesemua warga negara Indonesai serta dunia sekalipun.

Persoalannya adalah apakah kesadaran diri untuk menghindari lakalantas, sudah maksimal? Atau belum sama sekali? Nah, Jika kesadaran untuk menjaga diri dari lakalantas saja sudah rendah, tentu sangat sulit bagi kita untuk tidak mendengar, membaca dan melihat lakantas lagi. Namun demikian, Saya meyakini, seiring berjalannya waktu dan kampanye pencegah lakantas juga akan semakin tinggi. Dalam hal ini, tentu secara otomatis membuat kesadaran diri akan bahaya lakalantas juga semakin maksimal.

Nah, jika kesadaran diri akan berhati-hati dalam berkendaraan sudah tinggi, namun tetap saja tidak terjadi statistik pengurangan lakalantas di Indonesia. Maka, kiranya penting bagi kita untuk mencari cara lain dalam mecegah lakantas tersebut?

Hemat penulis, kita dapat memulainya dari kendaraan. Ya, kendaraan yang kita gunakan.  Saya menyarankan kalau semua jenis kendaraan roda dua sampai roda keatasnya harus diberi batasan maksimum di km/h nya. Misalnya, sepeda motor maksimumnya sampai 60km/h. Roda 4 dan seterusnya 100km/h.  Bisa atau tidak? Saya pikir bisa-bisa saja, jika memang setiap orang memesan kendaraan dengan kecepatan yang penulis sarankan.

Bahkan bisa lebih seru dan mengasyikkan serta tidak mengkhawatirkan. Misalnya, Kita tidak merasa risih kalau ada orang yang menggunakn kendaraan dekat kita, tiba-tiba menyalip dan melaju dengan kecepatan yang saya sarankan. Atau ada lagi yang ingin menguranginya..berapa lah? Silahkan!

Jika dengan kecepatan tersebut dan masih terjadi kcelakaan. Tentu tidak separah seperti yang kita lihat dan baca di media-media, karena dengan kecepatan tersebut kita dan rem kita tentu msih mampu menjaga keseimbangan. percaya atau tidak? Coba buktikn sendiri!


Begini, Percaya atau tidak lakalantas terjadi bukan hanya karena pengendara yang lalai, akan tetapi, bisa jadi karena ada kesempatan? Ya. Karena ada kesempatan diberikan atau mumpung difasilitasi dengan kecapatan yang tinggi, sehingga mungkin kita beranggapan ya sayangkan kalau tidak digunakan.

Namun demikian, dengan kecepatan yang penulis sarankan, mungkin persoalan akan sedikit muncul. Munculnya bisa bagi peserta balapan. Akan tetapi, mungkin Seru kali ya, kalau balapan dengan kecepatan yang saya tawarkan. Disamping hemat BBM, juga menghindari kecelakaan berat, karena dengan kecepatan demikian, tidak akan ada kecelakaan berat. Mari, kita sama-sama membangun kesadaran diri saat berkendaraan dan menggunakaan kendaraan terbaik yang aman dari lakalantas..wallahu ‘alam bishshawab.
Kurangi Emisi Kendaraan, Belanda Batasi Kecepatan Maksimal







                                                              

Skripsi dan Budaya Literasi

Heriansyah
Kemarin, saya dikejutkan dengan kabar bahwa teman saya hampir saja gagal saat ujian skripsinya. Hal ini tentu membuat saya keheranan. Karena saya tahu kemampuan beliau dalam literasi atau penguasaan materi skripsinya. Sebagai contoh, hampir semua dosen yang mengajarnya memuji makalah dan kemampuannya dalam memahami perkuliahan. Dosen tersebut tidak hanya memuji makalah buatanya di depan kelasnya, akan tetapi dosen tersebut memuji makalah di kelas lain yang seangkatan dengannya.

Tak sampai disitu, beliau pernah beberapa kali Indeks Prestasinya (IP) 4.00. Disamping itu, beliau juga harus rela-rela untuk membeli buku terkait penelitiannya. Dengan demikian, Saya sangat yakin kemampuannya diatas rata-rata dengan teman seangkatanya. Dia sangat menguasai konsentrasi jurusan yang dipilih dan di luar jurusan konsentrasinya beliau juga mumpuni. Bahkan di waktu yang sama dia kuliah di kampus lain.

Namun demikian, ternyata saat ujian skripsi beliau harus dikagetkan dengan hasil yang tidak memuaskan. Tetapi, lulus. Nilainya tidak memuaskan bukan karena dia copas atau minta buatkan dengan orang lain.

Terkait dengan judul diatas, dulu saya meyakini bahwa skripsi memang dapat membantu meningkatkan budaya literasi karena didalam proses bimbingan kita diajarkan untuk menulis dan membaca dengan baik. Namun, seiring berjalannya waktu sepertinya proses pembuatan skripsi tidak dapat diandalkan dalam meningkatkan budaya literasi.

Kenapa demikian? Karena saya juga sering menemukan mereka yang lulus sidang dengan nilai sangat memuaskan, saat disuruh untuk menulis buku mereka kelabakan lalu galau. Bukankah skripsi pernah mereka lewati? Bukankah membuat skripsi lebih sulit di banding membuat tulisan atau buku? Ini dapat menandakan proses skripsi belum memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap budaya literasi kita.

Skripsi itu berat, kalian tidak akan mampu, jika kalian tidak terbiasa dengan menulis atau berliterasi. Bukti skripsi lebih sulit dibanding membuat tulisan atau buku, yakni masih banyak kita temukan mereka yang semestinya kuliah maksimal 5 tahun, ternyata harus sampai berpuluh-puluh tahun karena belum mampu menyelesaikan skripsinya. Namun demikian, tidak berarti mereka yang gagal membuat skripsi atau penelitian menunjukan budaya literasinya rendah.

Beberapa tahun lalu saya pernah membuat tulisan tentang ‘akankah skripsi terbaik dapat penghargaan? Tulisan ini tentu dilatarbelakangi bahwa betapa sulitnya kami menyelesaikan skripsi kala itu. Sehingga saya berpikiran, jika skripsi ini sulit kenapa jarang kita menemukan skripsi terbaik dapat penghargaan. Bahkan skripsi hanya jadi pajangan di perpustakaan, tanpa ada reward berarti dari kampus.

Jika kita mengatakan skripsi itu mudah, toh masih banyak juga mahasiswa yang hampir di Drop Out (DO) gara-gara tidak mampu menyelesaikan skripsinya. Karena Skripsi merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Nah, apa yang kita harapkan dari mahasiswa dalam menyelesaikan skripsinya? Mahir menulis? Jago pidato? Atau menjadi ilmuwan hebat? Atau kesemuanya?

Jika kita masih mempertahankan skripsi untuk membuat mahasiswa meningkatkan budaya literasi atau sebagai standar kelayakan untuk disebut sarjana atau lebih dalam lagi yakni seorang ilmuwan. Maka, menurut saya, kita harus memikirkan kembali cara-cara terbaik pra penyusunan skripsi dan penyusunan skripsi. Misalnya, setiap pertemuan mahasiswa diwajibkan membuat tulisan dan membaca buku. Sekalipun masih banyak dosen yang jarang menulis buku, tidak apa-apa yang penting motivasinya. Maka, saya yakin skripsi dan budaya literasi akan menjadi sesuatu yang mudah dan membahagiakannya.
Seseorang pernah berkata kepada saya. Kamu jangan takut membuat skripsi, karena skripsi itu hasil ‘kolektif’ antara kamu dan dosen pembimbingmu. Ternyata, kenyataanya memang begitu. Untuk menyelesaikan skripsi kita harus mengikuti arahan atau bimbingan dosen pembimbing, meski berbeda dengan kemauan kita.

Ternyata, kita sering juga menemukan saat mahasiswa sidang skripsi, pembimbingnya hanya diam tanpa ada pembelaan apapun saat penguji mempertanyakaan dan mempersoalkan penelitian mahasiswanya. Lantasnya dimana peran pembimbingnya? Apakah saat proses bimbingan atau saat sidang skripsi? Jika peran pembimbing saat proses bimbingan, maka kami memohon dengan hormat, bimbinglah mahasiswa anda ke penelitian yang jelas dan dapat dipertanggunjawabkan. Jika perannya saat sidang skripsi, maka bantu mereka untuk mempertahankan argumentasinya jika memang benar. Jika perannya dikeduanya, itu lebih baik.

Seperti saya sampaikan diatas, bahwa memang skripsi erat kaitannya dengan literasi. Oleh karena itu, sejatinya dan tidak kalah pentingnya mahasiswa juga harus mampu membiasakan berliterasi dan mampu memahami ke arah mana penelitiannya dan apa substansi penelitian itu. Sehingga tidak hanya menyelesaikan tugas akhirnya saja, melainkan ia tahu apa tujuan dari penelitiannya itu.

Penutup, Mahasiswa dan dosen pembimbing juga harus mempunyai keinginan yang kuat dalam hal membangun atau menyuarakan manfaat menulis skripsi atau penelitian. Karena tidak jarang kita temukan skripsi menjadi sebuah buku yang best seller atau hanya pajangan usang. Dalam hal ini, Pihak kampus juga ikut terlibat dalam mencanangkan program yang mengaitkan antara skripsi dan budaya literasi. Dengan demikian, akan tersistem secara otomatis yakni skripsi hebat, literasi kuat

Mulia dengan Memuliakan Orang lain


Mulia dengan Memuliakan Orang lain

Heriansyah

Salah satu penyakit hati yang sering mengingapi diri manusia adalah menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Penyakit ini juga, yang membuat orang sering kali menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang yang dipandangnya rendah. Misalnya, yang kaya sering merasa mulia dibanding yang miskin. Yang diatas sering memandang orang dibawahnya lebih rendah. Sehingga pintu memandang orang lain lebih mulia darinya sudah tertutupi oleh sifat ini. Penyakit hati ini sering disebut dengan takabbur, congkak, atau sombong, bahkan sifat ini tergolong mengikuti langkah-langkah setan dalam menipu daya manusia.

Bahkan terkadang, tidak jarang kita harus menjelekkan orang lain hanya untuk menunjukkan kita ini mulia darinya.  Padahal kita tahu konsepnya bahwa, menceritakan kejelekan orang lain jika benar adanya, akan menjadi ghibah. Jika tidak benar gosip yang kita sampaikan, tentu akan menjadi fitnah. Lantas apakah ada untungnya untuk kita?

Sederhananya, untuk menunjukkan kita ini baik, tidak perlu menjelekkan orang lain, cukup fokus pada kebaikan yang kita lakukan, karena Allah Swt maha mengetahui atas apa yang dilakukan hambanya. Oleh karena itu, sering kita dengar kisah-kisah kemuliaan para ulama, diberikan Allah karena mereka raih dengan memandang orang lain dengan pandangan lebih mulia darinya.

Misalnya, jika mereka bertemu dengan orang muslim yang lebih tua darinya, mereka memandang yang lebih tua ini pahalanya lebih banyak dari saya. Jika bertemu dengan yang lebih muda, mereka memandangnya dengan pandangan, dosanya lebih sedikit peluang beramalnya lebih banyak dan Allah lebih memuliakannya.

Islam, memberikan solusi untuk obat orang yang memiliki penyakit hati ini, yakni dengan memiliki sifat rendah hati atau tawadhu. Bahkan kepada Allah Swt kita tidak cukup pada tingkat rendah hati tetapi rendah diri dihadapan-Nya. Karena memang banyak ayat al-Quran yang menyatakan kita ini sebenarnya hina, tidak memiliki kemampuan dihadapan Allah Swt, hanya kebaikan-Nya yang membuat kita dipandang mulia oleh manusia, lantas kenapa kita berbangga diri?

Allah Swt berfirman dalam al-Quran yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui (An-Nur [24]: 21).

Allah Swt juga berfirman dalam al-Quran surah al-Furqan ayat 63 yang artinya “dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. Kata Professor Quraish Shihab, ayat ini (Al-Furqan ayat 63) jika kita simpulkan menggambarkan dua sifat yakni rendah hati dan pandai menahan amarah.

Dalam konsep Islam, kemuliaan tidak dipandang dari harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi. Akan tetapi, kemuliaan diperoleh dari ketakwaan kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam firman-Nya “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S al-Hujurat: 13).

Demikian juga, Kehadiran Rasullullah tentulah menjadi contoh bagi kita umat Islam. Sekalipun beliau sebagai seorang Rasul dan kepala Pemerintahaan kala itu, beliau tidak pernah memandang orang yang dibawahnya dengan pandangan rendah.

Ustadz Hannan Attaki Pernah menyampaikan kisah menarik “suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedang duduk bersama sahabat-sahabat ahlussufah yang ada dimadinah yaitu golongan orang-orang yang miskin yang makanan setiap harinya adalah roti yang keras. Jadi, kalau mereka ingin memakan roti tersebut.

Maka, Roti tersebut harus direndam air terlebih dahulu karena sangking kerasnya roti itu. Para sahabat ini merasa tidak enak karena mereka menghidangkan roti yang keras kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena, mereka merasa bahwa Rasul tidak pantas untuk memakan roti tersebut. Beliaupun berkata kepada mereka “aku sesungguhnya adalah anak dari seorang perempuan yang biasanya memakan makanan tersebut”

Bagaimana cerdasnya Rasul, bisa menempatkan dirinya sama dengan yang lain, dalam rangka agar mereka tidak ada yang canggung lagi saat makan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan pada akhirnya memang mereka merasa nyaman makan bersama Rasul”.

Menurut Syarbini dkk, bahwa Nabi Muhammad SAW. telah mencapai kesuksesan, paling tidak ada 8 diantara kesuksesannya dan tiga diantara kesuksesan itu yakni: pertama, Sebagai seorang Rasul, beliau sukses menyampaikan risalah kepada manusia, sehingga mampu mengubah peradaban jahiliah menjadi peradaban rabbani.  Kedua, Dalam sistem sosial, beliau sukses mendapatkan gelar al-amin (orang yang paling dipercaya), yang tidak bisa didapatkan di Universitas manapun. Ketiga, Sebagai seorang suami, beliau sukses membina keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah (Heriansyah, 2018:5-6).

Saat ini, dengan kemajuan teknologi yang luar biasa sekalipun, belum ada dan tidak ada yang mampu menyamai Atqaa dan tawadhunya Nabi Muhammad SAW. Karena memang tawadhu lahir dari hati yang suci dan yang terbiasa mensucikannya. Namun demikian, sebagai umatnya tentulah kita harus terus berupaya meniru Rasul, karena beliau sebaik-baiknya contoh yang mencontohkan.  

Mari, kita berupaya memuliakan orang lain, apalagi orangtua maupun keluarga kita. Dengan memuliakan mereka, Niscaya kemuliaan akan Allah Swt berikan kepada kita. Selanjutnya, kita berharap kepada Allah, agar dijauhkan dari penyakit-penyakit hati, karena dengan usaha yang kuat dan diridhoi allah, kita akan terjauhi dari penyakit hati dan terlindung dari godaan setan. Wallahu ‘alam bishshawab.




Macet, Bagaimana Menyikapinya?


Macet, Bagaimana Menyikapinya?

Heriansyah

Hampir dapat dipastikan, kita semua pernah mengalami macet di jalanan. Ada yang saat pergi mudik, liburan kerja, bahkan masuk dan pulang kerja pun masih terjebak macet. Seolah-olah macet ini merupakan sesuatu yang pasti dan terus menerus.

Padahal, Macet bukanlah sebuah keniscayaan. Ia masih bisa dicegah dan organisir. Di kota besar, macet sudah merupakan hal yang tidak asing lagi di mata kita, dan hal ini pun sepertinya sudah merambah ke kota kecil. Meski masih ada kategori macetnya, misalnya macet kecil dan macet besar/terus menerus, macet yang tidak mengenal waktu, dengan persentase yang berbeda-beda. Namun, macet tetaplah macet dan rata-rata orang tidak menginginkannya.

Bahkan, dalam temuan lembaga riset Inrix, tingkat kemacetan kota-kota di dunia mengalami kenaikan. Peningkatan kemacetan ini juga terjadi pada kota-kota di Indonesia yang disurvei Inrix sepanjang 2017. Tidak mengejutkan, kota-kota tersebut kebanyakan adalah ibu kota dari masing-masing provinsi yang mewakilinya. Inrix mengumpulkan data dari 1.360 kota di 38 negara yang mencakup lebih dari 250.000 kilometer persegi jalan dan berfokus pada kemacetan di seluruh sepanjang hari dan minggu.

Traffic Scorecard 2017 mengadopsi metodologi yang sama dengan 2016 dengan menyediakan wawasan tentang skala dan dampak kemacetan pada waktu yang berbeda. Misalnya kemacetan saat jam sibuk terutama memengaruhi komuter, sementara kemacetan selama seharian penuh cenderung lebih banyak memengaruhi bisnis.  berikut 10 daftar nama kotanya yakni Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Padang, Medan, Pontianak, Surabaya, Semarang dan Denpasar.(Kompas.com/25/2/2018)

Oleh karena itu, seperti apa kita menyikapi macet, menjadi sesuatu yang menentukan keberlangsungan macet itu sendiri. Seperti yang penulis sampaikan diatas, bahwa Macet bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, karena ia bukan sebuah kepastian. Oleh karenanya, sikap kita dalam menanggapi dan mencegah macet ini menjadi sangat di harapkan. Apalagi Pontianak, masuk di no 7 dari 10 kota-kota Indonesia yang terkenal macetnya.

Macet, ternyata memiliki tempat tersendiri di hati atau perasaan setiap orang. Misalnya, hampir setiap pagi ada yang harus ‘ketakutan’ saat berangkat kerja. Kenapa? Karena takut macet. Apalagi berangkatnya sudah mendekati jam masuk kerja. Pertama takut, terjebak macet, kedua takut terlambat masuk kerja karena macet. Maka paling tidak solusinya, kita harus berangkat lebih awal dengan waktu masuk kerja.

Ternyata, macet tidak sampai disitu. Macet di jam pulang kerja juga akan senantiasa menunggu. Nah, persoalan inilah yang sulit dihindari. Kenapa demikian, karena tidak mungkin pulang duluan, disamping aturan masuk dan pulang kerja, juga terkadang ada pekerjaan yang harus diselesaikan melebihi waktu kerja.

Ya, ujung-ujungnya kita pun terjebak macet lagi, meski di jam pulang. Sepanjang pengamatan penulis, macet terjadi paling tidak dikarenakan jam masuk kerja dan pulang kerja di setiap instansi di waktu yang sama, jumlah kendaraan yang semakin banyak dan memang jalan yang belum terlalu lebar atau belum terlalu banyak memfungsikan jalan-jalan alternatif.

Nah, oleh karena itu jika tidak memberatkan kita dapat membuat jam masuk dan jam pulang kerja yang berbeda-beda jauh, antara sekolah, perguruan tinggi, buruh, karyawan, instansi-instansi pemerintah dan lain sebagainya. Jika merasa diberatkan abaikan saja dan tidak usah digubris pendapat ini.

Misalnya, di sekolah-sekolah masuknya lebih awal,, berkisar jam 6.30 teng. Ini secara otomatis, akan menstimulus para pelajar agar berangkatnya lebih awal di banding para pekerja. Sehingga mereka pun akan menggunakan waktu istirahat malamnya dengan efisien. Mereka pun lebih awal pulangnya dibanding pekerja. Maka, secara otomatis, titik temu antara pelajar dan pekerja yang sering menyebabkan macet paling tidak sudah tergeser sedikit. Begitu seterusnya bagi yang lainnya yang saya sebutkan diatas.

Namun demikian, persoalan-persoalan pun akan muncul. Pertama, bagi yang sekolahnya jauh dari rumah, tentu ia harus berangkat subuh agar tidak terlambat. Kondisi berangkat awal dan jalan yang masih sepi juga menjadi kendala, dalam artian kerawan kejahatan di jalan, terlebih lagi begal dan sejenisnya. Ini juga perlu mendapatkan perhatian di bagian keamanan jalan raya.

Kedua, juga akan terkendala bagi kaum ibu, baik yang bekerja maupun ibu rumah tangga. Yang bekerja ia harus bangun lebih awal dari biasanya, karena harus menyiapkan sarapan atau jajan anak-anaknya yang berangkat awal. Bagi yang ibu rumah tangga, juga harus bangun awal karena harus mengantar anaknya lebih awal dan tentu juga menyiapkan sarapan anak atau keluargaya.

Jika perubahan jam masuk dan pulang kerja di setiap instansi sudah jauh selisih, sementara tetap saja masih menemukan macet tiap hari. Maka, bagaimana kita menyikapi macet tersebut? Apakah harus dicerca? Atau dibiarkan dan dinikmati saja?

Percaya atau tidak, tiap kejadian termasuk ini (baca:macet) pasti terkandung kebaikan, hal ini tergantung dari sisi mana kita memandangnya.

Ada yang ketika ketemu macet ia hanya bisa memaki-maki, toh dengan memaki persoalan macet juga tidak selesai. Yang menarik menurut penulis adalah, bahwa macet juga dapat dijadikan ladang kebaikan. Misalnya, saat macet kita bawa motor justru kita bisa menunggunya sambil istigfar, meski tidak menyelesaikan persoalan tapi istigfar kita sudah menghapus kesalahan.

Bagi yang menggunakan mobil, bisa sambil mendengar murottal atau yang disopirkan bisa sambil mengaji dan mengkhatamkan al-quran. Saya pernah dengar bahwa KH. Muhammad Arifin Ilham bisa mengkhatamkan al-Quran dalam mobilnya disaat terjebak macet.

Oleh karena itu, jernihkan pikiran dalam melihat macet, karena bisa jadi saat di rumah atau di kantor kita tidak sempat untuk mengaji atau istigfar dan ternyata Allah SWt berikan kesempatan untuk kita mengaji atau istigfar disaat-saat sebagian orang tidak menyenanginya. Nah, ternyata! macet justru membawa kebaikan bagi kita. Sekali lagi, mencegah macet itu penting dan sikap kita terhadap macet jauh lebih penting. Menggerutu tidak menyelesaikan persoalan. Justru membuat hati ini semakin keras dari kebaikan yang tersembunyi. Bagaimana?

           


Revolusi Karakter Bangsa dan Kebhinekaan


Revolusi Karakter Bangsa dan Kebhinekaan

OLEH : HERIANSYAH, Bekerja di IAIN PONTIANAK

Dahulu, untuk merebut kemerdekaan Indonesia, para pejuang kita rela mati melawan penjajah, demi berkibarnya pendera Merah Putih. Bahkan, setelah Indonesia merdeka pun Bangsa ini belum ‘tenang’, dalam menikmati kemerdekaannya sendiri, hal ini terbukti dengan gugurnya “Pahlawan Revolusi” yang dikenal dengan Gerakan 30 September 1965/G30S.

Gugurnya Pahlawan kita, baik itu pahlawan nasional, pahlawan Revolusi maupun pahlwan lokal menandakan bahwa merdeka dalam bingkai Kebhinekaan itu adalah harga mati.  Pahlawan saat itu, merupakan sebuah simbol kerukunan umat beragama di Indonesia.  Karena, Mereka berjuang tidak pernah melihat perbedaan dari SARA. Mereka mengesampingkan perbedaan bendera aqidah. Kalau saat itu, mereka mengedepankan perbedaan akidah atau etnis dan yang lainnya, tentu kemerdekaan sampai saat ini tidak bisa kita raih apalagi dipertahankan.

Banyaknya Pahlawan yang gugur, sebenarnya menyadarkan kita arti  penting sebuah kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana kita menyadari, arti hidup bersama dalam Kebhinekaan. Mengesampingkan kebhinekaan bukanlah karakter Bangsa Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, para pendahulu bangsa Indonesia sudah menanamkan karakter untuk kita tiru. Tugas kita, sebagai warga negara yang baik adalah merevolusi karakter bangsa dan kebhinekaan itu sendiri, yang akhir-akhir ini goyah dengan hadirnya pihak yang ‘menjagokan’ salah satu dari kepentingan SARA, sehingga menganggap yang lain sesat atau tidak benar.

Untuk menghindari perpecahaan dalam tubuh Bangsa Indonesia ini, Pendidikan dan Kebudayaan terus melakukan perubahan diantaranya bagaimana dapat Merevolusi Karakter Bangsa dan Kebhinekaan yang akhir-akhir ini mulai mengabur. Pendidikan dengan segudang nilai mulianya, tentu terus berusaha memberikan yang terbaik untuk bangsa yang berbhineka ini. Begitu juga dengan Kebudayaan, tentu terus berusaha menguatkan perannya bagi bangsa yang berkarakter ini.

Bobroknya karakter Bangsa bukanlah masalah sepeleh, melainkan masalah besar. Ya, karena jika karakter bangsa mengalami dekadensi yang akut, akan berakibat pada penghargaannya terhadap kebebasan orang lain. Padahal dalam hal kebebasan, negara telah memberikan rasa aman dan nyaman bagi warganya, hal ini misalnya dalam undang-undang telah mengatur kebebasan memilih agama, mendapat pendidikan yang layak dan lain sebagainya.

Rasa menghargai terhadap orang lain yang semakin menurun, akan mengacaukan kehidupan Berbhineka Tunggal Ika yang ada di Indonesia ini. Kacaunya, hidup dalam kebhinekaan akan membuat bangsa ini menjadi semakin tidak ‘tenang’. Bukankah ketenangan menjadi dambaan semua orang, baik itu tenang dalam keluarga maupun berbangsa dan bernegara? Jika bangsa ini tingkat ketenangannya sudah tidak terjamin, hal ini tentu bisa memunculkan peperangan antar SARA yang berkepanjangan.

Lalu, bagaimana peran pendidikan itu sendiri? Hal ini penulis jawab dengan kalimat kutipan “Pendidikan Nasional memiliki peranan teramat strategis, di dalam usaha bangsa Indonesia mewujudkan kembali cita-cita dan sumpah dari Founding Fathers kita, untuk membangun Indonesia mewujudkan masyarakat Indonesia yang kuat dan bersatu dalam kenyataan yang bhineka (Tilaar, 2010, hal. viii). Ya, melalui pendidikan kita dapat merevolusi karakter bangsa dan semangat kebhinekaan yang ada di Indonesia ini.

Pendidikan dan Kebudayaan memang dua hal yang berbeda. Namun, kedua hal ini ada keterkaitannya, paling tidak dalam hal  pengembangan nilai. Misalnya, bagaimana didalam kebudayaan itu termuat nilai pendidikan atau dalam pendidikan memuat nilai budaya. Indonesia, tidak hanya terkenal dengan negara yang berkarakter, akan tetapi juga terkenal dengan negara yang berbudaya. Dengan demikian, dapat penulis katakan bahwa di Indonesia Pendidikan dan Kebudayaan sudah melebur menjadi sesuatu yang tidak bisa terlepaskan.

Interelasi antara pendidikan dan kebudayaan dewasa ini menjadi topik  yang sangat menarik. Pertama, karena pendidikan telah direduksikan sebagai pembentukan intelektual semata-mata. Karena kehidupan manusia tidak hanya intelektual saja, melainkan termasuk teknologi, seni sastra dan musik, olah raga yang merupakan manifestasu kebudayaan. Kedua, memasuki milenium ketiga, wajah kehidupan manusia mulai berubah ialah suatu kebutuhan akan identitas diri. Gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. Oleh sebab itu, kini di seluruh dunia mulai timbul usaha menghidupkan kebudayaan lokal (Tilaar, 2010, hal. 189-190).

Pendidikan dan Kebudayaan semestinya memberikan bekas bagi peserta didiknya. Mendidik dan mengenalkan budaya, semestinya sedini mungkin dilaksanakan, dengan harapan yang dididik tidak mudah lupa apa yang telah ia terima dan menjadi karakter dalam dirinya. Karena, sesuatu yang menjadi karakter atau terukir dalam diri seseorang sulit ‘tercabut’ oleh apapun. Singkatnya, pendidikan dapat menstransformasikan nilai-nilai budaya. Budaya yang ada, juga harus mentrasnformasikan nilai-nilai pendidikan.

Pemaknaan pendidikan yang baik, akan menghadirkan nilai karakter, misalnya Pendidikan tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Paling tidak karakter tersebut yaitu  menghargai pendapat orang/Toleransi dan semangat kebangsaan (termasuk 18 nilai karakter yang dikeluarkan oleh Diknas), yang dalam hal ini, ada kaitannya dengan hidup dalam bingkai kebhinekaan. Orang yang memiliki sikap toleransi dan semangat kebangsaan akan menampakkan keberhasilan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

 Dalam hal ini, bagaimana para ‘pelaku’ pendidikan mengejahwantahkan nilai mulia yang didapatnya dari proses pendidikan dan kebudayaan itu sendiri.  Tidak adanya karakter dan semangat kebhinekaan dalam bangsa ini, dapat menjadi simbol bahwa proses pendidikan tidak sampai pada diri seorang. Karena, pendidikan menekankan pada nilai-nilai kemuliaan dan menghargai perbedaan pendapat.

Oleh karena itu, setiap orang harus menjadi figur dalam masyarakat. Agar dapat menjadi ‘wakil’ dari pendidikan itu sendiri. Karena memang, diantara tujuan pendidikan yakni Takwa pada Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan watak, berbudi pekerti, berkepribadian dan berbudaya.

Semestinya, kebudayaan juga terus beradaptasi dan berenovasi terhadap kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan warga Indonesia, sehingga terkesan bahwa kebudayaan memang dapat membawa revolusi karakter bangsa dan kebhinekaan. Mengenalkan budaya  dari tiap-tiap daerah juga merupakan hal penting. Perubahan yang dilakukan kebudayaan tidak mesti melupakan sejarah, sebagaimana pernah diucapkan Bung Karno “Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Jasmerah semestinya juga menjadi karakter dari bangsa ini.

Sebagai penutup, mari melalui pendidikan dan kebudayaan, kita revolusi karakter bangsa dan penguatan arti penting sebuah kebhinekaan, yang telah dibangun oleh pendahulu kita. Sehingga tidak akan muncul lagi, kasus-kasus pembakaran rumah ibadah, penistaan agama atau penghinaan terhadap ulama dan lain sebagainya yang akhir-akhir ini sangat meresahkan, serta  mengganggu ketenangan umat beragama di Indonesia. Penguatan wakil-wakit dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sangat penting untuk mencegah paham yang dapat merusak kerukunan di Indonesia, dalam menyampaikan ke penganutnya agar tiap orang tahu dan merasa ambil andil dalam karakter bangsa dan semangat kebhinekaan.