Macet,
Bagaimana Menyikapinya?
Heriansyah
Hampir dapat dipastikan, kita semua pernah mengalami macet di jalanan. Ada yang saat pergi mudik, liburan kerja, bahkan masuk dan pulang kerja pun masih terjebak macet. Seolah-olah macet ini merupakan sesuatu yang pasti dan terus menerus.
Padahal, Macet bukanlah sebuah keniscayaan. Ia masih bisa dicegah dan organisir. Di kota besar, macet sudah merupakan hal yang tidak asing lagi di mata kita, dan hal ini pun sepertinya sudah merambah ke kota kecil. Meski masih ada kategori macetnya, misalnya macet kecil dan macet besar/terus menerus, macet yang tidak mengenal waktu, dengan persentase yang berbeda-beda. Namun, macet tetaplah macet dan rata-rata orang tidak menginginkannya.
Bahkan, dalam temuan lembaga riset Inrix, tingkat kemacetan kota-kota di dunia mengalami kenaikan. Peningkatan kemacetan ini juga terjadi pada kota-kota di Indonesia yang disurvei Inrix sepanjang 2017. Tidak mengejutkan, kota-kota tersebut kebanyakan adalah ibu kota dari masing-masing provinsi yang mewakilinya. Inrix mengumpulkan data dari 1.360 kota di 38 negara yang mencakup lebih dari 250.000 kilometer persegi jalan dan berfokus pada kemacetan di seluruh sepanjang hari dan minggu.
Traffic Scorecard 2017 mengadopsi metodologi yang sama dengan 2016 dengan menyediakan wawasan tentang skala dan dampak kemacetan pada waktu yang berbeda. Misalnya kemacetan saat jam sibuk terutama memengaruhi komuter, sementara kemacetan selama seharian penuh cenderung lebih banyak memengaruhi bisnis. berikut 10 daftar nama kotanya yakni Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Padang, Medan, Pontianak, Surabaya, Semarang dan Denpasar.(Kompas.com/25/2/2018)
Oleh karena itu, seperti apa kita menyikapi macet, menjadi sesuatu yang menentukan keberlangsungan macet itu sendiri. Seperti yang penulis sampaikan diatas, bahwa Macet bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, karena ia bukan sebuah kepastian. Oleh karenanya, sikap kita dalam menanggapi dan mencegah macet ini menjadi sangat di harapkan. Apalagi Pontianak, masuk di no 7 dari 10 kota-kota Indonesia yang terkenal macetnya.
Macet, ternyata memiliki tempat tersendiri di hati atau perasaan setiap orang. Misalnya, hampir setiap pagi ada yang harus ‘ketakutan’ saat berangkat kerja. Kenapa? Karena takut macet. Apalagi berangkatnya sudah mendekati jam masuk kerja. Pertama takut, terjebak macet, kedua takut terlambat masuk kerja karena macet. Maka paling tidak solusinya, kita harus berangkat lebih awal dengan waktu masuk kerja.
Ternyata, macet tidak sampai disitu. Macet di jam pulang kerja juga akan senantiasa menunggu. Nah, persoalan inilah yang sulit dihindari. Kenapa demikian, karena tidak mungkin pulang duluan, disamping aturan masuk dan pulang kerja, juga terkadang ada pekerjaan yang harus diselesaikan melebihi waktu kerja.
Ya, ujung-ujungnya kita pun terjebak macet lagi, meski di jam pulang. Sepanjang pengamatan penulis, macet terjadi paling tidak dikarenakan jam masuk kerja dan pulang kerja di setiap instansi di waktu yang sama, jumlah kendaraan yang semakin banyak dan memang jalan yang belum terlalu lebar atau belum terlalu banyak memfungsikan jalan-jalan alternatif.
Nah, oleh karena itu jika tidak memberatkan kita dapat membuat jam masuk dan jam pulang kerja yang berbeda-beda jauh, antara sekolah, perguruan tinggi, buruh, karyawan, instansi-instansi pemerintah dan lain sebagainya. Jika merasa diberatkan abaikan saja dan tidak usah digubris pendapat ini.
Misalnya, di sekolah-sekolah masuknya lebih awal,, berkisar jam 6.30 teng. Ini secara otomatis, akan menstimulus para pelajar agar berangkatnya lebih awal di banding para pekerja. Sehingga mereka pun akan menggunakan waktu istirahat malamnya dengan efisien. Mereka pun lebih awal pulangnya dibanding pekerja. Maka, secara otomatis, titik temu antara pelajar dan pekerja yang sering menyebabkan macet paling tidak sudah tergeser sedikit. Begitu seterusnya bagi yang lainnya yang saya sebutkan diatas.
Namun demikian, persoalan-persoalan pun akan muncul. Pertama, bagi yang sekolahnya jauh dari rumah, tentu ia harus berangkat subuh agar tidak terlambat. Kondisi berangkat awal dan jalan yang masih sepi juga menjadi kendala, dalam artian kerawan kejahatan di jalan, terlebih lagi begal dan sejenisnya. Ini juga perlu mendapatkan perhatian di bagian keamanan jalan raya.
Kedua, juga akan terkendala bagi kaum ibu, baik yang bekerja maupun ibu rumah tangga. Yang bekerja ia harus bangun lebih awal dari biasanya, karena harus menyiapkan sarapan atau jajan anak-anaknya yang berangkat awal. Bagi yang ibu rumah tangga, juga harus bangun awal karena harus mengantar anaknya lebih awal dan tentu juga menyiapkan sarapan anak atau keluargaya.
Jika perubahan jam masuk dan pulang kerja di setiap instansi sudah jauh selisih, sementara tetap saja masih menemukan macet tiap hari. Maka, bagaimana kita menyikapi macet tersebut? Apakah harus dicerca? Atau dibiarkan dan dinikmati saja?
Percaya atau tidak, tiap kejadian termasuk ini (baca:macet) pasti terkandung kebaikan, hal ini tergantung dari sisi mana kita memandangnya.
Ada yang ketika ketemu macet ia hanya bisa memaki-maki, toh dengan memaki persoalan macet juga tidak selesai. Yang menarik menurut penulis adalah, bahwa macet juga dapat dijadikan ladang kebaikan. Misalnya, saat macet kita bawa motor justru kita bisa menunggunya sambil istigfar, meski tidak menyelesaikan persoalan tapi istigfar kita sudah menghapus kesalahan.
Bagi yang menggunakan mobil, bisa sambil mendengar murottal atau yang disopirkan bisa sambil mengaji dan mengkhatamkan al-quran. Saya pernah dengar bahwa KH. Muhammad Arifin Ilham bisa mengkhatamkan al-Quran dalam mobilnya disaat terjebak macet.
Oleh karena itu, jernihkan pikiran dalam melihat macet, karena bisa jadi saat di rumah atau di kantor kita tidak sempat untuk mengaji atau istigfar dan ternyata Allah SWt berikan kesempatan untuk kita mengaji atau istigfar disaat-saat sebagian orang tidak menyenanginya. Nah, ternyata! macet justru membawa kebaikan bagi kita. Sekali lagi, mencegah macet itu penting dan sikap kita terhadap macet jauh lebih penting. Menggerutu tidak menyelesaikan persoalan. Justru membuat hati ini semakin keras dari kebaikan yang tersembunyi. Bagaimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar