Selasa, 10 Maret 2020

Mulia dengan Memuliakan Orang lain


Mulia dengan Memuliakan Orang lain

Heriansyah

Salah satu penyakit hati yang sering mengingapi diri manusia adalah menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Penyakit ini juga, yang membuat orang sering kali menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang yang dipandangnya rendah. Misalnya, yang kaya sering merasa mulia dibanding yang miskin. Yang diatas sering memandang orang dibawahnya lebih rendah. Sehingga pintu memandang orang lain lebih mulia darinya sudah tertutupi oleh sifat ini. Penyakit hati ini sering disebut dengan takabbur, congkak, atau sombong, bahkan sifat ini tergolong mengikuti langkah-langkah setan dalam menipu daya manusia.

Bahkan terkadang, tidak jarang kita harus menjelekkan orang lain hanya untuk menunjukkan kita ini mulia darinya.  Padahal kita tahu konsepnya bahwa, menceritakan kejelekan orang lain jika benar adanya, akan menjadi ghibah. Jika tidak benar gosip yang kita sampaikan, tentu akan menjadi fitnah. Lantas apakah ada untungnya untuk kita?

Sederhananya, untuk menunjukkan kita ini baik, tidak perlu menjelekkan orang lain, cukup fokus pada kebaikan yang kita lakukan, karena Allah Swt maha mengetahui atas apa yang dilakukan hambanya. Oleh karena itu, sering kita dengar kisah-kisah kemuliaan para ulama, diberikan Allah karena mereka raih dengan memandang orang lain dengan pandangan lebih mulia darinya.

Misalnya, jika mereka bertemu dengan orang muslim yang lebih tua darinya, mereka memandang yang lebih tua ini pahalanya lebih banyak dari saya. Jika bertemu dengan yang lebih muda, mereka memandangnya dengan pandangan, dosanya lebih sedikit peluang beramalnya lebih banyak dan Allah lebih memuliakannya.

Islam, memberikan solusi untuk obat orang yang memiliki penyakit hati ini, yakni dengan memiliki sifat rendah hati atau tawadhu. Bahkan kepada Allah Swt kita tidak cukup pada tingkat rendah hati tetapi rendah diri dihadapan-Nya. Karena memang banyak ayat al-Quran yang menyatakan kita ini sebenarnya hina, tidak memiliki kemampuan dihadapan Allah Swt, hanya kebaikan-Nya yang membuat kita dipandang mulia oleh manusia, lantas kenapa kita berbangga diri?

Allah Swt berfirman dalam al-Quran yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui (An-Nur [24]: 21).

Allah Swt juga berfirman dalam al-Quran surah al-Furqan ayat 63 yang artinya “dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. Kata Professor Quraish Shihab, ayat ini (Al-Furqan ayat 63) jika kita simpulkan menggambarkan dua sifat yakni rendah hati dan pandai menahan amarah.

Dalam konsep Islam, kemuliaan tidak dipandang dari harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi. Akan tetapi, kemuliaan diperoleh dari ketakwaan kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam firman-Nya “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S al-Hujurat: 13).

Demikian juga, Kehadiran Rasullullah tentulah menjadi contoh bagi kita umat Islam. Sekalipun beliau sebagai seorang Rasul dan kepala Pemerintahaan kala itu, beliau tidak pernah memandang orang yang dibawahnya dengan pandangan rendah.

Ustadz Hannan Attaki Pernah menyampaikan kisah menarik “suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedang duduk bersama sahabat-sahabat ahlussufah yang ada dimadinah yaitu golongan orang-orang yang miskin yang makanan setiap harinya adalah roti yang keras. Jadi, kalau mereka ingin memakan roti tersebut.

Maka, Roti tersebut harus direndam air terlebih dahulu karena sangking kerasnya roti itu. Para sahabat ini merasa tidak enak karena mereka menghidangkan roti yang keras kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena, mereka merasa bahwa Rasul tidak pantas untuk memakan roti tersebut. Beliaupun berkata kepada mereka “aku sesungguhnya adalah anak dari seorang perempuan yang biasanya memakan makanan tersebut”

Bagaimana cerdasnya Rasul, bisa menempatkan dirinya sama dengan yang lain, dalam rangka agar mereka tidak ada yang canggung lagi saat makan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan pada akhirnya memang mereka merasa nyaman makan bersama Rasul”.

Menurut Syarbini dkk, bahwa Nabi Muhammad SAW. telah mencapai kesuksesan, paling tidak ada 8 diantara kesuksesannya dan tiga diantara kesuksesan itu yakni: pertama, Sebagai seorang Rasul, beliau sukses menyampaikan risalah kepada manusia, sehingga mampu mengubah peradaban jahiliah menjadi peradaban rabbani.  Kedua, Dalam sistem sosial, beliau sukses mendapatkan gelar al-amin (orang yang paling dipercaya), yang tidak bisa didapatkan di Universitas manapun. Ketiga, Sebagai seorang suami, beliau sukses membina keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah (Heriansyah, 2018:5-6).

Saat ini, dengan kemajuan teknologi yang luar biasa sekalipun, belum ada dan tidak ada yang mampu menyamai Atqaa dan tawadhunya Nabi Muhammad SAW. Karena memang tawadhu lahir dari hati yang suci dan yang terbiasa mensucikannya. Namun demikian, sebagai umatnya tentulah kita harus terus berupaya meniru Rasul, karena beliau sebaik-baiknya contoh yang mencontohkan.  

Mari, kita berupaya memuliakan orang lain, apalagi orangtua maupun keluarga kita. Dengan memuliakan mereka, Niscaya kemuliaan akan Allah Swt berikan kepada kita. Selanjutnya, kita berharap kepada Allah, agar dijauhkan dari penyakit-penyakit hati, karena dengan usaha yang kuat dan diridhoi allah, kita akan terjauhi dari penyakit hati dan terlindung dari godaan setan. Wallahu ‘alam bishshawab.




2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. sudah cukup memuaskan hanya saja ada beberapa kekurangan seperti referensi yg tidak jelas, ada beberapa istilah teknis yg tidak dijelaskan dan keseimbangan antara fakta dan refleksi

    BalasHapus