Mulia dengan Memuliakan Orang lain
Heriansyah
Salah
satu penyakit hati yang sering mengingapi diri manusia adalah menganggap orang
lain lebih rendah dari dirinya. Penyakit ini juga, yang membuat orang sering
kali menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang yang dipandangnya rendah. Misalnya,
yang kaya sering merasa mulia dibanding yang miskin. Yang diatas sering
memandang orang dibawahnya lebih rendah. Sehingga pintu memandang orang lain
lebih mulia darinya sudah tertutupi oleh sifat ini. Penyakit hati ini sering
disebut dengan takabbur, congkak, atau sombong, bahkan sifat ini tergolong mengikuti
langkah-langkah setan dalam menipu daya manusia.
Bahkan
terkadang, tidak jarang kita harus menjelekkan orang lain hanya untuk
menunjukkan kita ini mulia darinya. Padahal kita tahu konsepnya bahwa, menceritakan
kejelekan orang lain jika benar adanya, akan menjadi ghibah. Jika tidak benar
gosip yang kita sampaikan, tentu akan menjadi fitnah. Lantas apakah ada
untungnya untuk kita?
Sederhananya,
untuk menunjukkan kita ini baik, tidak perlu menjelekkan orang lain, cukup
fokus pada kebaikan yang kita lakukan, karena Allah Swt maha mengetahui atas
apa yang dilakukan hambanya. Oleh karena itu, sering kita dengar kisah-kisah kemuliaan
para ulama, diberikan Allah karena mereka raih dengan memandang orang lain
dengan pandangan lebih mulia darinya.
Misalnya,
jika mereka bertemu dengan orang muslim yang lebih tua darinya, mereka
memandang yang lebih tua ini pahalanya lebih banyak dari saya. Jika bertemu
dengan yang lebih muda, mereka memandangnya dengan pandangan, dosanya lebih
sedikit peluang beramalnya lebih banyak dan Allah lebih memuliakannya.
Islam,
memberikan solusi untuk obat orang yang memiliki penyakit hati ini, yakni
dengan memiliki sifat rendah hati atau tawadhu. Bahkan kepada Allah Swt kita
tidak cukup pada tingkat rendah hati tetapi rendah diri dihadapan-Nya. Karena
memang banyak ayat al-Quran yang menyatakan kita ini sebenarnya hina, tidak
memiliki kemampuan dihadapan Allah Swt, hanya kebaikan-Nya yang membuat kita
dipandang mulia oleh manusia, lantas kenapa kita berbangga diri?
Allah Swt berfirman dalam al-Quran yang artinya
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan.
Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan
itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya
tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak
seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui (An-Nur [24]: 21).
Allah
Swt juga berfirman dalam al-Quran surah al-Furqan ayat 63 yang artinya “dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang
itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan”. Kata Professor Quraish Shihab, ayat ini
(Al-Furqan ayat 63) jika kita simpulkan menggambarkan dua sifat yakni rendah
hati dan pandai menahan amarah.
Dalam
konsep Islam, kemuliaan tidak dipandang dari harta yang berlimpah, jabatan yang
tinggi. Akan tetapi, kemuliaan diperoleh dari ketakwaan kepada Allah Swt.
Sebagaimana dalam firman-Nya “Hai manusia, Sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal” (Q.S al-Hujurat: 13).
Demikian
juga, Kehadiran Rasullullah tentulah menjadi contoh bagi kita umat Islam.
Sekalipun beliau sebagai seorang Rasul dan kepala Pemerintahaan kala itu,
beliau tidak pernah memandang orang yang dibawahnya dengan pandangan rendah.
Ustadz
Hannan Attaki Pernah menyampaikan kisah menarik “suatu ketika Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam sedang duduk bersama sahabat-sahabat ahlussufah yang
ada dimadinah yaitu golongan orang-orang yang miskin yang makanan setiap
harinya adalah roti yang keras. Jadi, kalau mereka ingin memakan roti tersebut.
Maka,
Roti tersebut harus direndam air terlebih dahulu karena sangking kerasnya roti
itu. Para sahabat ini merasa tidak enak karena mereka menghidangkan roti yang
keras kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Karena, mereka merasa
bahwa Rasul tidak pantas untuk memakan roti tersebut. Beliaupun berkata kepada
mereka “aku sesungguhnya adalah anak dari seorang perempuan yang biasanya
memakan makanan tersebut”
Bagaimana
cerdasnya Rasul, bisa menempatkan dirinya sama dengan yang lain, dalam rangka agar
mereka tidak ada yang canggung lagi saat makan bersama Rasulullah Shallallahu
alaihi wasallam dan pada akhirnya memang mereka merasa nyaman makan bersama
Rasul”.
Menurut Syarbini dkk, bahwa Nabi Muhammad SAW. telah mencapai kesuksesan, paling tidak ada 8
diantara kesuksesannya dan tiga diantara kesuksesan itu yakni: pertama, Sebagai
seorang Rasul, beliau sukses menyampaikan risalah kepada manusia, sehingga
mampu mengubah peradaban jahiliah menjadi peradaban rabbani. Kedua, Dalam sistem sosial, beliau sukses
mendapatkan gelar al-amin (orang yang
paling dipercaya), yang tidak bisa didapatkan di Universitas manapun. Ketiga, Sebagai
seorang suami, beliau sukses membina keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah
(Heriansyah, 2018:5-6).
Saat ini, dengan
kemajuan teknologi yang luar biasa sekalipun, belum ada dan tidak ada yang
mampu menyamai Atqaa dan tawadhunya Nabi
Muhammad SAW. Karena memang tawadhu lahir dari hati yang suci dan yang terbiasa
mensucikannya. Namun demikian, sebagai umatnya tentulah kita harus terus
berupaya meniru Rasul, karena beliau sebaik-baiknya contoh yang mencontohkan.
Mari, kita berupaya memuliakan
orang lain, apalagi orangtua maupun keluarga kita. Dengan memuliakan mereka, Niscaya
kemuliaan akan Allah Swt berikan kepada kita. Selanjutnya, kita berharap kepada
Allah, agar dijauhkan dari penyakit-penyakit hati, karena dengan usaha yang
kuat dan diridhoi allah, kita akan terjauhi dari penyakit hati dan terlindung
dari godaan setan. Wallahu ‘alam bishshawab.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussudah cukup memuaskan hanya saja ada beberapa kekurangan seperti referensi yg tidak jelas, ada beberapa istilah teknis yg tidak dijelaskan dan keseimbangan antara fakta dan refleksi
BalasHapus