Selasa, 10 Maret 2020

Kurangi kecepatan Kendaraan



Oleh : Heriansyah




Ternyata! Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita disuguhkan berita kecelakaan lalu lintas atau Lakalantas. Tak peduli tua atau pun muda pernah terdengar dan terlihat menjadi korban lakantas. Bahkan, mungkin sanak saudara kita pernah mengalaminya. Baik yang meninggal maupun yang dirawat di rumah sakit. Dan tentu hal ini merugikan baik korban, tersangka maupun keluarga korban.


Anehnya, dengan lakalantas yang tiap hari terjadi dan kita saksikan itu, membuat kita seperti sudah terbiasa dengan hal itu. Dan mungkin, karena tingginya intensitas lakantas itu, sehingga membuat respon kita kalaw tidak kaget ringan, ya ucapan prihatin dll. Sebagai seorang manusia, hal ini mungkin wajar. Apa lagi yang mengaitkan dengan ini sudah ‘takdir’ dan suratannya. Tentu hal semacam ini, seakan lakantas adalah suatu yang bersifat keniscayaan dan tidak bisa dihindari atau dipungkiri.

Namun, akan sangat berbeda, dengan statement pembalap Daniel Ricciardo”...sudah saatnya saya menekan pelatuk. Saya akan lebih senang mengalami kecelakaan karena sudah berusaha tampil ngotot, daripada hanya membalap dibelakang orang-orang yang itu-itu saja selama 70 lap (lihat: Pontianak Post, 22/3/2018). 

Oleh karena itu, Karena masyarakat kita bukan semuanya pembalap dan pensiunan pembalap. Maka, kiranya penting untuk mempertimbangkan keselamatan banyak orang saat berkendaraan.

Terkait dengan judul diatas, maka paling tidak kita harus dapat melakukan hal-hal berikut: pertama, kita harus mengurangi kecepatan saat berkendaraan. Maka dengan otomatis lakalantas akan bisa dihindari dan dicegah. Kedua, mengurangi kecepatan yang ada dikendaraan itu sendiri. Jika dengan beralasan kurangnya kecepatan kendaraan membuat urusan transportasi semakin lama, maka cara kita harus memanjemen waktu dengan baik. Artinya, kita bisa berangkat lebih awal dengan kecepatan yang telah dikurangi untuk menutup kecepatan yang biasa kita gunakan.

Pernahkah kita berusaha mencegah agar korban lakalantas tidak selalu bertambah? Pernah sich tapi mungkin tidak maksimal. Ya.  Karena apa daya kita untuk mengingatkan orang agar terhindar dari lakantas, sementara mereka sendiri masih sering mengabaikn kalimat 'lebih baik kehilangan waktu dalam 1 menit daripada kehilangan hidup dalam 1 menit'.

Oleh karena itu, yang tidak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran diri dalam berkendaraan. Karena apapun, jika dilakukan dengan kesadaran diri sendiri, akan menghasilkan atau mempengaruhi orang-orang sekitar. Bahkan, keluarga pun akan ikut membangun kesadaran itu. Dengan kesadaran diri sendiri, sebenarnya kita telah membangun sebuah sistim preventif yang kuat bagi Indonesia, dalam rangka mencegah kecelakaan lalu lintas.

Misalnya, kita bayangkan, jika setiap orang sadar akan bahaya lakalantas, kemudian mereka melaksanakan dan mengkampenyakan pencegahan lakalantas, maka secara tidak langsung setiap orang menjadi duta anti lakantas. Karena tiap diri tahu akan tanggung jawabnya sebagai duta pencegahan lakalantas. Bukankah, dari diri sendiri akan berdampak ke masyarakat dan terus sampai kesemua warga negara Indonesai serta dunia sekalipun.

Persoalannya adalah apakah kesadaran diri untuk menghindari lakalantas, sudah maksimal? Atau belum sama sekali? Nah, Jika kesadaran untuk menjaga diri dari lakalantas saja sudah rendah, tentu sangat sulit bagi kita untuk tidak mendengar, membaca dan melihat lakantas lagi. Namun demikian, Saya meyakini, seiring berjalannya waktu dan kampanye pencegah lakantas juga akan semakin tinggi. Dalam hal ini, tentu secara otomatis membuat kesadaran diri akan bahaya lakalantas juga semakin maksimal.

Nah, jika kesadaran diri akan berhati-hati dalam berkendaraan sudah tinggi, namun tetap saja tidak terjadi statistik pengurangan lakalantas di Indonesia. Maka, kiranya penting bagi kita untuk mencari cara lain dalam mecegah lakantas tersebut?

Hemat penulis, kita dapat memulainya dari kendaraan. Ya, kendaraan yang kita gunakan.  Saya menyarankan kalau semua jenis kendaraan roda dua sampai roda keatasnya harus diberi batasan maksimum di km/h nya. Misalnya, sepeda motor maksimumnya sampai 60km/h. Roda 4 dan seterusnya 100km/h.  Bisa atau tidak? Saya pikir bisa-bisa saja, jika memang setiap orang memesan kendaraan dengan kecepatan yang penulis sarankan.

Bahkan bisa lebih seru dan mengasyikkan serta tidak mengkhawatirkan. Misalnya, Kita tidak merasa risih kalau ada orang yang menggunakn kendaraan dekat kita, tiba-tiba menyalip dan melaju dengan kecepatan yang saya sarankan. Atau ada lagi yang ingin menguranginya..berapa lah? Silahkan!

Jika dengan kecepatan tersebut dan masih terjadi kcelakaan. Tentu tidak separah seperti yang kita lihat dan baca di media-media, karena dengan kecepatan tersebut kita dan rem kita tentu msih mampu menjaga keseimbangan. percaya atau tidak? Coba buktikn sendiri!


Begini, Percaya atau tidak lakalantas terjadi bukan hanya karena pengendara yang lalai, akan tetapi, bisa jadi karena ada kesempatan? Ya. Karena ada kesempatan diberikan atau mumpung difasilitasi dengan kecapatan yang tinggi, sehingga mungkin kita beranggapan ya sayangkan kalau tidak digunakan.

Namun demikian, dengan kecepatan yang penulis sarankan, mungkin persoalan akan sedikit muncul. Munculnya bisa bagi peserta balapan. Akan tetapi, mungkin Seru kali ya, kalau balapan dengan kecepatan yang saya tawarkan. Disamping hemat BBM, juga menghindari kecelakaan berat, karena dengan kecepatan demikian, tidak akan ada kecelakaan berat. Mari, kita sama-sama membangun kesadaran diri saat berkendaraan dan menggunakaan kendaraan terbaik yang aman dari lakalantas..wallahu ‘alam bishshawab.
Kurangi Emisi Kendaraan, Belanda Batasi Kecepatan Maksimal







                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar