Oleh : Heriansyah
Ternyata! Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita disuguhkan berita kecelakaan lalu lintas atau Lakalantas. Tak peduli tua atau pun muda pernah terdengar dan terlihat menjadi korban lakantas. Bahkan, mungkin sanak saudara kita pernah mengalaminya. Baik yang meninggal maupun yang dirawat di rumah sakit. Dan tentu hal ini merugikan baik korban, tersangka maupun keluarga korban.
Anehnya, dengan lakalantas yang tiap hari terjadi dan kita saksikan itu, membuat kita seperti sudah terbiasa dengan hal itu. Dan mungkin, karena tingginya intensitas lakantas itu, sehingga membuat respon kita kalaw tidak kaget ringan, ya ucapan prihatin dll. Sebagai seorang manusia, hal ini mungkin wajar. Apa lagi yang mengaitkan dengan ini sudah ‘takdir’ dan suratannya. Tentu hal semacam ini, seakan lakantas adalah suatu yang bersifat keniscayaan dan tidak bisa dihindari atau dipungkiri.
Namun,
akan sangat berbeda, dengan statement pembalap Daniel Ricciardo”...sudah
saatnya saya menekan pelatuk. Saya akan lebih senang mengalami kecelakaan
karena sudah berusaha tampil ngotot, daripada hanya membalap dibelakang
orang-orang yang itu-itu saja selama 70 lap (lihat: Pontianak Post, 22/3/2018).
Oleh
karena itu, Karena masyarakat kita bukan semuanya pembalap dan pensiunan
pembalap. Maka, kiranya penting untuk mempertimbangkan keselamatan banyak orang
saat berkendaraan.
Terkait
dengan judul diatas, maka paling tidak kita harus dapat melakukan hal-hal
berikut: pertama, kita harus mengurangi kecepatan saat berkendaraan. Maka
dengan otomatis lakalantas akan bisa dihindari dan dicegah. Kedua, mengurangi
kecepatan yang ada dikendaraan itu sendiri. Jika dengan beralasan kurangnya
kecepatan kendaraan membuat urusan transportasi semakin lama, maka cara kita
harus memanjemen waktu dengan baik. Artinya, kita bisa berangkat lebih awal
dengan kecepatan yang telah dikurangi untuk menutup kecepatan yang biasa kita
gunakan.
Pernahkah kita berusaha
mencegah agar korban lakalantas tidak selalu
bertambah? Pernah sich tapi mungkin tidak maksimal. Ya. Karena apa daya kita untuk mengingatkan orang
agar terhindar dari lakantas, sementara mereka sendiri masih sering mengabaikn
kalimat 'lebih baik kehilangan waktu dalam 1 menit daripada kehilangan hidup dalam
1 menit'.
Oleh karena itu, yang
tidak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran diri dalam berkendaraan.
Karena apapun, jika dilakukan dengan kesadaran diri sendiri, akan menghasilkan
atau mempengaruhi orang-orang sekitar. Bahkan, keluarga pun akan ikut membangun
kesadaran itu. Dengan kesadaran diri sendiri, sebenarnya kita telah membangun
sebuah sistim preventif yang kuat bagi Indonesia, dalam rangka mencegah
kecelakaan lalu lintas.
Misalnya, kita
bayangkan, jika setiap orang sadar akan bahaya lakalantas, kemudian mereka
melaksanakan dan mengkampenyakan pencegahan lakalantas, maka secara tidak
langsung setiap orang menjadi duta anti lakantas. Karena tiap diri tahu akan
tanggung jawabnya sebagai duta pencegahan lakalantas. Bukankah, dari diri
sendiri akan berdampak ke masyarakat dan terus sampai kesemua warga negara
Indonesai serta dunia sekalipun.
Persoalannya adalah
apakah kesadaran diri untuk menghindari lakalantas, sudah maksimal? Atau belum sama
sekali? Nah, Jika kesadaran untuk menjaga diri dari lakalantas saja sudah
rendah, tentu sangat sulit bagi kita untuk tidak mendengar, membaca dan melihat
lakantas lagi. Namun demikian, Saya meyakini, seiring berjalannya waktu dan
kampanye pencegah lakantas juga akan semakin tinggi. Dalam hal ini, tentu
secara otomatis membuat kesadaran diri akan bahaya lakalantas juga semakin
maksimal.
Nah, jika kesadaran
diri akan berhati-hati dalam berkendaraan sudah tinggi, namun tetap saja tidak
terjadi statistik pengurangan lakalantas di Indonesia. Maka, kiranya penting
bagi kita untuk mencari cara lain dalam mecegah lakantas tersebut?
Hemat penulis, kita
dapat memulainya dari kendaraan. Ya, kendaraan yang kita gunakan. Saya menyarankan
kalau semua jenis kendaraan roda dua sampai roda keatasnya harus diberi batasan
maksimum di km/h nya. Misalnya, sepeda motor maksimumnya sampai 60km/h. Roda 4
dan seterusnya 100km/h. Bisa atau tidak?
Saya pikir bisa-bisa saja, jika memang setiap orang memesan kendaraan dengan
kecepatan yang penulis sarankan.
Bahkan
bisa lebih seru dan mengasyikkan serta tidak mengkhawatirkan. Misalnya, Kita tidak
merasa risih kalau ada orang yang menggunakn kendaraan dekat kita, tiba-tiba
menyalip dan melaju dengan kecepatan yang saya sarankan. Atau ada lagi yang ingin
menguranginya..berapa lah? Silahkan!
Jika
dengan kecepatan tersebut dan masih terjadi kcelakaan. Tentu tidak separah
seperti yang kita lihat dan baca di media-media, karena dengan kecepatan tersebut
kita dan rem kita tentu msih mampu menjaga keseimbangan. percaya atau tidak?
Coba buktikn sendiri!
Begini, Percaya atau tidak lakalantas terjadi bukan hanya karena pengendara yang lalai, akan tetapi, bisa jadi karena ada kesempatan? Ya. Karena ada kesempatan diberikan atau mumpung difasilitasi dengan kecapatan yang tinggi, sehingga mungkin kita beranggapan ya sayangkan kalau tidak digunakan.
Namun
demikian, dengan kecepatan yang penulis sarankan, mungkin persoalan akan
sedikit muncul. Munculnya bisa bagi peserta balapan. Akan tetapi, mungkin Seru
kali ya, kalau balapan dengan kecepatan yang saya tawarkan. Disamping hemat
BBM, juga menghindari kecelakaan berat, karena dengan kecepatan demikian, tidak
akan ada kecelakaan berat. Mari, kita sama-sama membangun kesadaran diri saat
berkendaraan dan menggunakaan kendaraan terbaik yang aman dari
lakalantas..wallahu ‘alam bishshawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar