Selasa, 27 Oktober 2015

Pembeli yang Cerdas Membawa Perubahan

Heriansyah
https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7950091585191313843#editor/target=post;postID=3027700517970308994



Pembeli yang Cerdas Membawa Perubahan
Oleh Heriansyah  
Tidak jarang kita menemukan orang yang banyak uang tetapi tidak mampu memanajemen atau mengelola pengeluaran belanjanya dengan baik. Kesalahan dalam mengelola keuangan kita dapat mengetahuinya dari barang-barang yang dibelinya. Apakah barang yang bermanfaat bagi lingkungan? Atau justru tidak membawa manfaat bagi lingkungan? Tentu ini boleh dijadikan ‘trending topic’ untuk negeri Indonesia tercinta ini.
Konsumen yang cerdas bukanlah konsumen yang hanya pandai berbelanja dengan harga murah, akan tetapi konsumen yang cerdas adalah mereka yang membelanjakan hartanya di jalan yang ‘benar’ dan yang dibeli barang yang jelas-jelas manfaat dan sumbernya. Tentu kita masih ingat dengan ungkapan‘ I love produk Indonesia’ ? ungkapan ini biasa ada pada produksi buatan Indonesia. Namun jika kita tilik secara seksama sesungguhnya ungkapan ini memiliki makna yang dalam dan penuh nasihat. Contohnya, jika kita sering membeli barang-barang pokok dari luar negeri seperti Gula dan beras secara illegal yang tidak ada merek atau cap/stempelnya, karena harganya lebih murah, tentu akan secara langsung membuat para petani kita akan rugi karena hasil panennya tidak bisa dijual dengan harga mahal. Lambat laun petani kita akan menjadi malas untuk bercocok tanam lagi karena hasil panennya tidak bisa menjanjikan lagi. Tahun pertama kita memang bisa membeli harga barang dari luar dengan harga murah, namun di tahun-tahun berikutnya tentu barang-barang tersebut akan mahal karena penjual dari luar negeri mengetahui permintaan yang semakin tingggi sementara penanam sudah tidak ada. Atau kita kenal dengan dengan sebutan harga barang ditentukan oleh permintaan.
Tidak hanya dampak harga barang yang tinggi akan tetapi berdampak pada tingkat perekonomian atau lapangan kerja. Lemahnya petani untuk bercocok tanam tentu akan menimbulkan pengangguran, dengan adanya pengangguran untuk Pemerintah harus menyiapkan lapangan pekerjaan baru lagi. Jika ini terjadi mau jadi apa negeri ini.
Oleh karena itu, untuk pencegahan atau preventif terhadap hal yang akan merugikan kita bersama dapat dilakukan dengan cara membeli produk dari Indonesia yang ramah lingkungan atau bermanfaat bagi lingkungan. Kita juga berharap dengan adanya RSPO sebagai asosiasi yang terdiri dari berbagai organisasi dari berbagai sektor industri kelapa sawit (perkebunan, pemrosesan, distributor, industri manufaktur, investor, akademisi, dan LSM bidang lingkungan) dapat membawa perubahan dan mampu mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk produksi minyak sawit yang berkelanjutan dan membawa manfaat bagi lingkuangan. Kita semua berharap RSPO dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi Rakyat Indonesia. Bukankah manfaat itu tidak hanya untuk si konsumen saja? tetapi orang-orang sekitar ataupun produsen juga harus mendapatkan manfaatnya, sikap merasa ingin memberi manfaat bagi orang sekitar dapat menghilangkan sikap apatis. Semakin majunya teknologi dan dunia yang serba modern ini maka sikap apatis akan semakin kuat mendera masyarakat kita. Jika sikap apatis sudah semakin tinggi maka akan banyak dampak negatifnya.
Keseringan konsumen membeli barang dari luar negeri yang membuat mereka berusaha selalu mempertahankannya. Misalnya kisah  dalam Buku Marketing 3.0 ( alih bahasa Dian Wulandari,2010;53) menuturkan kisah New Coke 1985, “dalam waktu kurang dari tiga bulan, New Coke ditarik dari peredaran karena gugatan konsumen. Gugatan itu bukan karena rasa yan baru. Pada pertengahan tahun 1980-an, coca-cola telah menjadi bagian dari budaya pop di Amerika Serikat. Konsumen merasa terikat dengan merek tersebut dan formula rahasianya. New coke yang baru merusak ikatan tersebut sehingga konsumen menolak peluncuran produk baru itu. Namun di Kanada, kasusnya berbeda. New Coke sangat diterima karena coca-coal tidak memiliki status ikon di Kanada. Di Amerika Serikat, kasus itu sangat menghabiskan biaya, namun coca-cola kemudian meyakini bahwa konsumen menjaga merek mereka.”
 Dari kisah ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa pertama,  mungkin merek yang kita gunakan dari luar bukan yang terbaik dan tidak bermanfaat bagi lingkungan, karena merek tersebut tidak disukai oleh daerah mereka sedangkan kita menganggap merek itu yang baik. Kedua, mungkin dengan kenalnya kita pada merek tersebut membuat kita sulit untuk ‘berpaling’ meski kita tahu dampaknya tidak baik bagi lingkungan. Ketiga, konsumen yang terbiasa menggunakan ‘merek’ dari luar yang belum tentu baik bagi lingkungan akan sulit untuk dihentikan.
Dengan kita mengetahui semuanya dengan baik, maka kita akan menggunakan uang kita kebaikan bersama dengan cara membeli yang baik dan bermanfaat. Adapun kesimpulan dari tulisan ini adalah mulai dari sekarang jadilah konsumen yang baik, periksa dan cek setiap kemasan apakah itu legal atau ilegal, pilih yang baik yang substansinya bermanfaat bagi diri sendiri lingkungan dan Indonesia. Pemilihan membeli bahan-bahan pokok yang baik akan membawa perubahan bagi Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar